Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Ketegangan yang memuncak di balairung istana Astina akhirnya berubah menjadi titik balik. Wisanggeni, satria muda pewaris darah Pandawa dan para dewa, menyampaikan kebenaran yang tak bisa dibantah siapa pun.
Ia memaksa Duryudana membuka mata terhadap penderitaan rakyatnya yang selama ini ditutup-tutupi oleh laporan para nayaka yang menjilat.
Duryudana, sang raja yang selama ini keras dan anti kritik, murka ketika tahu fakta sebenarnya.
“Dasar kalian semua! Aku tadi sudah tenang dan damai. Kalian melaporkanku kesejahteraan rakyat, nyatanya semua bohong!” teriaknya penuh emosi.
Dalam kemarahan itu, Wisanggeni mempersilakan Sengkuni bicara. Sang patih tua, dengan suara lemah, mengakui semuanya.
“Maafkan aku, anak prabu. Kami hanya takut paduka marah dan jatuh sakit. Kami pikir kesehatan raja lebih penting dari penderitaan rakyat jelata,” jawabnya jujur namun menusuk logika.
Respons Duryudana pun mengejutkan. Ia menyadari justru dengan menutupi kesengsaraan rakyat, ia melemahkan dirinya sendiri.
“Aku garang tapi tak bertaring, karena dibohongi!” serunya.
Wisanggeni menegaskan kembali peringatannya.
Jika Duryudana tak segera berbenah dan memakmurkan rakyat, ia akan kembali dan mengambil alih kekuasaan. Bahkan, jika perlu, meratakan seluruh tanah Astina.
Namun alih-alih marah, Duryudana berubah. Ia menunduk dan menerima kritik Wisanggeni sebagai tamparan kesadaran.
“Rupanya rakyatku masih banyak yang menderita. Aku termakan omongan manis yang mengandung racun,” ucapnya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani