Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Pertarungan dahsyat antara Kakrasana dan Kartapiyoga mengguncang seisi lautan. Getaran akibat benturan senjata keduanya mengakibatkan pusaran raksasa, mengangkat Istana Tirtakadasar ke permukaan laut.
Ombak mengamuk, badai memutar langit, dan laut tak lagi tenang.
Melihat kekacauan itu, datanglah Prabu Kurandageni, penguasa samudra dan ayah dari Kartapiyoga.
Matanya menyala marah, dan tanpa banyak bicara, ia hendak menyerang Kakrasana. Namun Narayana segera menghadang.
Tak ingin membiarkan kakaknya bertarung sendirian, ia melawan Kurandageni dengan kekuatan penuh.
“Biarlah kutandingkan kehormatan ini, Kakangmas!” serunya.
Demi menyetarakan kekuatan, Narayana bertiwikrama, menjelma menjadi raksasa cahaya, dan Kurandageni pun berubah menjadi makhluk raksasa laut yang menggelegar.
Dua raksasa itu bertarung hebat di atas air, tubuh mereka membelah ombak, menciptakan gelombang besar yang mengancam garis pantai.
Permadi yang menyaksikan dari kejauhan cemas. Ia takut pertempuran para kesatria ini akan menciptakan tsunami besar yang mengancam seluruh daratan. Maka, dengan sigap ia membidikkan panahnya.
Dua anak panah sakti melesat—satu menghujam Kartapiyoga, satu lagi mencederai Prabu Kurandageni. Darah para raksasa mengalir ke laut, mengubah warna air menjadi merah saga.
Kesempatan itu dimanfaatkan Kakrasana dan Narayana.
Baca Juga: Lakon Wayang Wisanggeni Gugat 1, Kedatangan Sang Api di Istana Astina
Sang kakak mencabut Tombak Nenggala, adiknya mengangkat Cakra Baskara. Kedua senjata sakti itu berputar, memancarkan cahaya terang benderang yang membelah awan dan lautan.
Sebelum istana itu tenggelam kembali untuk selamanya, Kakrasana berhasil menyelamatkan Erawati, memeluknya erat, dan bersama Narayana mereka terbang kembali ke Mandaraka.
Prabu Salya menanti dengan cemas. Begitu melihat putrinya datang dalam pelukan Kakrasana, sang raja tak kuasa menahan air matanya.
“Maafkan ayahmu ini, Erawati,” ucapnya lirih penuh haru. “Kehilanganmu membuatku sadar… aku terlalu arogan. Kesombonganku nyaris merenggut segalanya. Aku harus belajar menjadi ayah yang lebih bijak.”
Erawati memeluk ayahnya dengan tangis bahagia. “Aku sudah memaafkan, Ayah.”
Sang prabu menoleh pada pemuda gagah di hadapannya.
“Dan kau… Wasi Jaladara. Maafkan kata-kataku tempo hari. Aku menilaimu dari penampilan semata, tak tahu bahwa kau adalah Raden Kakrasana, putra mahkota Mandura.”
Kakrasana tersenyum tenang. “Tidak apa, Paman Prabu. Aku tahu, semua itu karena panik kehilangan Erawati.”
Prabu Salya mengangguk dalam.
“Sesuai janjiku di awal sayembara, maka hari ini aku menepatinya. Putriku Erawati akan kunikahkan denganmu, Kakrasana. Dengan restu rakyat dan langit Mandaraka, hari ini juga kau kami angkat sebagai raja baru. Mulai hari ini, engkau bergelar Prabu Baladewa—penguasa Mandaraka sekaligus pewaris cinta dan keberanian.”
Istana bersorak. Genderang dipukul. Para dewa pun tersenyum dari khayangan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani