Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Sayembara Drupadi belum menemukan titik terang. Namun di tengah harapan Gandamana akan kedatangan Pandawa, bayangan masa lalu kembali menghampiri.
Bukan dari pelamar biasa, melainkan dari Sengkuni, Sang Kurupati, dan rombongan Kurawa yang mencoba menggoyahkan pendirian sang penjaga kehormatan negeri Pancala.
Gandamana, meski sempat berbincang penuh harap dengan Prabu Drupada, tidak mengendurkan tekadnya. Ia yakin Pandawa masih hidup.
“Menurutku mereka tidak mati, Kaka Prabu,” katanya dengan suara tenang namun penuh keyakinan.
“Hatiku memiliki ikatan batin yang kuat. Dan aku yakin, mereka tidak akan mati semudah itu. Dewa akan selalu melindungi mereka.”
Ucapan itu cukup membuat Prabu Drupada terdiam. Hatinya yang diliputi kekhawatiran tentang masa depan Drupadi perlahan mulai luluh oleh keyakinan sang adik ipar.
“Baiklah Gandamana,” ucap Drupada akhirnya.
“Namun bila sampai besok mereka tak juga datang, dengan berat hati sayembara ini harus aku akhiri.”
Belum juga harapan itu tiba, badai lain datang menyerbu. Rombongan Kurawa memasuki arena. Di barisan terdepan berdiri Sengkuni, licik namun licin dalam berkata-kata.
“Hai Kakang Gandamana, apakah kau lupa denganku?” tanyanya dengan senyum tipis yang tak menyembunyikan niat.
Namun, Gandamana bukan pria yang mudah dilunakkan oleh basa-basi. Tatapannya tajam saat menjawab, “Kenapa aku harus lupa dengan orang yang memfitnah diriku serta membunuh istriku?”
Sengkuni tak mundur. Ia mencoba berkelit, mengubah luka menjadi candaan.
“Aduh, itu kan sudah lama. Tapi lihatlah sekarang dirimu. Tambah gemuk, nyaman, tentram di sini. Dulu saat kau di Astina bersama Pandu, kau kurus, seperti tidak betah di sana.”
Senyum sinis Gandamana berubah jadi ledakan amarah yang tertahan oleh kebijaksanaan.
“Ketenangan tidak diukur dari fisik, heh Sengkuni! Memang aku dulu tidak seperti ini. Tapi di bawah kepemimpinan Sinuwun Pandu, aku diberi ilmu: ketabahan, kesabaran. Bila tidak, dulu aku sudah membunuhmu, heh Suman!”
Ucapan itu menghentak hati Sengkuni, membuatnya terdiam sejenak. Namun seperti biasa, ia tidak datang tanpa tujuan.
Dengan dalih menebus masa lalu, Sengkuni meluncurkan tuntutannya.
“Baiklah, untuk menebus karena kau membuat diriku cacat ini, maka berikan saja Dewi Drupadi kepada keponakanku. Maka aku akan melupakan semua sakit hatiku padamu.”
Permintaan itu melukai harga diri Gandamana lebih dari apa pun. Sebab baginya, Drupadi bukan sekadar putri Pancala.
Ia adalah harga diri keluarga, simbol kehormatan Pandawa yang diyakininya akan datang. Maka pertarungan belum selesai, dan Gandamana tak akan menyerah, bahkan kepada ancaman yang datang dari masa lalu.
(bersambung/*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani