Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Gandamana tidak bisa lagi menahan kemarahannya. Saat Sengkuni bersikeras memaksa agar Drupadi dijodohkan dengan Kurawa, amarah sang penjaga kehormatan Pancala meledak di hadapan para petinggi Astina.
“Bisa begitu percayanya kau berkata seolah-olah aku yang bersalah, hem!” bentaknya lantang.
“Kau seperti itu karena tindakan dan perilakumu sendiri, yang bukan seperti manusia, hai orang Plasajenar!”
Nada Gandamana meninggi. Ia tidak hanya menyerang pribadi Sengkuni, tetapi juga membongkar dampak kehancuran yang ditinggalkan sang Kurupati di Astina.
“Negara Astina menjadi rusak karena dirimu! Kau dari negeri asing, ikut-ikut mengubah tatanan adat dan budaya bangsa. Astina kehilangan jati dirinya, para pemudanya rusak, budayanya yang adi luhung kau cabik-cabik!”
Sengkuni hanya tertawa sinis. “Haha... sudah cukup! Astina butuh perubahan. Budayanya terlalu jadul. Anak-anak muda menyukai budayaku. Kau hanya cemburu karena aku lebih disukai!”
Tapi Gandamana tak ingin mendengar lebih jauh.
“Cukup!” bentaknya lagi. “Bila perlu, pergilah! Jangan pun bertanding, melihat kalian saja aku sudah muak!”
Seketika ia mengerahkan ajian sakti: Bandung Bandawasa Ngungkal Bener. Satu lontaran energi menggetarkan istana.
Para Kurawa termasuk Sengkuni terpental ke luar keraton Pancala, tak mampu berkutik.
Mereka kalah sebelum bertarung, dihajar ajian yang dulu diajarkan Pandu pada Gandamana.
Malu, rombongan Kurawa pulang ke Hastina, membawa amarah dan dendam yang belum selesai.
Di tempat lain, jauh dari hiruk-pikuk istana, di sebuah hutan sunyi tempat pelarian dan penyamaran, Dewi Kunti mendengar kabar dari utusan tentang sayembara yang digelar Gandamana.
Anak-anaknya, para Pandawa, menyimak diam-diam. Tapi Bratasena alias Bima tahu maksud tersirat sang guru sekaligus pamannya.
Ia pun memohon izin kepada ibunya. “Ibu, izinkan aku mengikuti sayembara itu.”
Dewi Kunti menatap tajam anaknya. “Kenapa harus Bratasena? Kau ingin menikah lagi? Bukankah Nagagini sudah cukup cantik jadi istrimu?”
Bima menunduk hormat.
“Ibuku, ini bukan tentang pernikahan. Ini panggilan guru kepada muridnya. Ia ingin tahu sampai di mana ilmu yang sudah kuterima darinya. Menolak undangan seorang guru, adalah dosa besar bagi diriku.”
“Dan jika aku menang dalam sayembara itu, hadiah yang dimaksud (Dewi Drupadi) akan kuberikan pada kakakku, Puntadewa. Dia yang lebih pantas. Ini bukan tentang cinta, tapi tentang bakti!” lanjutnya.
Kunti tak lagi membalas. Ia hanya memandang Bratasena, lalu mengangguk perlahan, seolah tahu bahwa roda takdir tengah bergerak menuju ujian besar.
Sebuah peristiwa akan lahir, mengubah peta sejarah Hastina dan Pancala untuk selamanya.
(bersambung/*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani