Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Puntadewa Rabi 4, Identitas yang Akhirnya Terbongkar

Ki Damar • Rabu, 9 Juli 2025 | 03:15 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Puntadewa
Ilustrasi tokoh wayang Puntadewa

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Ketika lima pemuda berpakaian lusuh datang ke istana Pancala, tak ada satu pun dari bangsawan atau rakyat yang menyangka bahwa mereka adalah para kesatria agung yang dulu diyakini telah tewas di Bale Gala-Gala.

Mereka datang tanpa pengawal, tanpa kereta, bahkan tanpa busana megah, kain putih mereka telah berubah kecokelatan, tanda telah lama berkelana tanpa kehidupan layak.

Drupada pun sempat menahan tawa. “Siapa kalian? Pemuda-pemuda yang hendak jadi pandita? Kenapa kotor sekali kalian?”

Tapi salah satu dari mereka, yang tampak paling tua dan kalem, menjawab lirih namun mantap.

“Kami adalah saudara, sering mengembara dari hutan ke hutan. Hidup dalam tapa ngrame. Kami tidak meminta apa-apa kecuali berbuat untuk sesama.”

Sang raja memicingkan mata.

“Apakah kalian hendak mengikuti sayembara?” tanyanya sambil menatap Puntadewa, yang saat itu menyamar sebagai Begawan Darmasarana. Pemuda itu menganggukkan kepala dengan sopan.

“Pergilah,” ujar Drupada ringan. “Sayembara sudah ditutup.”

Namun tiba-tiba, Gandamana yang berdiri di belakang Prabu Drupada langsung maju dan berbisik. Tapi suara bisikannya berubah menjadi lantang karena emosi yang tak tertahankan. “Paduka! Mereka adalah Pandawa!”

Drupada sontak berdiri dari singgasananya. “Apa?!”

Suasana balairung istana Pancala mendadak senyap. Bahkan suara napas pun seolah enggan terdengar.

Para pengawal yang tadi nyaris mengusir mereka, kini mundur dan menunduk. Gandamana maju beberapa langkah, menatap Bratasena dengan mata berkaca-kaca.

“Ilmuku ternyata tidak sia-sia, Bratasena,” lirihnya. “Kau datang, tepat seperti keyakinanku...”

Sebelum semua ini terjadi, Bratasena telah menyampaikan niatnya kepada sang kakak tertua, Puntadewa. Namun sang kakak menolak halus.

“Kenapa harus aku, Bima? Aku belum siap menikah. Kita masih dalam masa prihatin. Bagaimana aku bisa menikahi putri raja dalam keadaan seperti ini?”

Tapi Bima dengan lembut menjawab. “Gandamana, pamanku, pernah berkata: jika manusia ingin pandai, jadilah guru. Jika ingin kaya, menikahlah. Jangan kau ragukan rezeki. Tuhan telah mencukupi kebutuhan manusia.”

Dewi Kunti yang menyimak dari kejauhan akhirnya tersenyum. “Baiklah, Bratasena. Ibu merestui. Tapi jangan pernah tinggalkan sopan santun dan jangan kau sombong. Karena kesombongan adalah awal dari kehancuran hati.”

Kini, lima pemuda asing yang semula diremehkan itu justru menjadi pusat perhatian. Raja Pancala terguncang, sayembara yang sempat hendak ditutup kini harus dibuka kembali. Dan para Kurawa yang baru saja diusir kemarin, seolah hanya bayang-bayang dari masa lalu yang kelam.

Pandawa telah datang.

Mereka bukan hanya membawa ilmu dan keberanian, tapi juga kejujuran, pengabdian, dan keyakinan bahwa takdir selalu berpihak kepada yang sabar.

(bersambung/*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Puntadewa #Lakon #wayang