Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Balairung Istana Pancala berubah menjadi saksi sejarah ketika penyamaran Pandawa terbongkar. Gandamana, sang patih sekaligus paman Pandawa, langsung memeluk mereka dengan penuh haru.
"Bangunlah, jangan duduk seperti rakyat jelata," ujarnya lirih sembari menatap Bima dengan mata berkaca. Suasana istana pun berganti: dari curiga, menjadi penuh hormat.
Saat itu pula, Bima langsung menerima tantangan pertarungan dari Gandamana.
“Kau telah mengetahui undanganku, Bima. Aku sangat terharu kau datang. Apakah kau sudah siap?” tanya sang paman.
“Aku selalu siap dalam bertarung. Aku akan menunjukkan bahwa diriku sudah berkembang,” jawab Bima mantap.
Pertarungan mereka berlangsung menegangkan. Ratusan pasang mata menyaksikan benturan dua kekuatan yang tampak seimbang.
Sorak sorai para satria mengiringi setiap gerakan mereka. Baru kali ini Gandamana bertarung dengan penuh totalitas.
Ilmu dan jurus yang dikeluarkan Bima membuat semua terkesima, karena tampak sangat mirip dengan milik Gandamana. Tak banyak yang tahu bahwa Bratasena adalah murid sang patih sendiri.
“Sudah bagus, kau sudah berkembang, Bima. Aku salut padamu. Kau dibesarkan oleh keadaan,” ujar Gandamana di tengah laga.
Namun celaka, karena bicara terlalu banyak, Gandamana lengah. Kukuh Bima, kuku sakti warisan Dewa, tak sengaja menghantam dadanya.
Darah muncrat. Suasana berubah mencekam. Para satria menjerit, “Gandamana rubuh! Gandamana rubuh!”
Bima sontak memeluk tubuh sang paman yang terkulai. Air matanya mengalir deras.
Tapi dengan suara berat yang nyaris hilang, Gandamana menepuk punggung Bima.
“Jangan kau bersedih, aku bangga padamu, Bima. Aku segera akan menyusul ayahmu… Sinuwun Pandu… Aku datang.”
Drupada gemetar. “Aduh adikku Gandamana… bagaimana ini?”
Tapi Gandamana masih punya satu pesan terakhir.
“Sesuai janjiku, Sinuwun… Aku meminta dirimu memberikan Drupadi pada Puntadewa. Aku mohon…”
Raja Pancala tak kuasa menolak. Dengan suara lirih, ia menyanggupi permintaan adik iparnya itu.
Sebelum nyawanya benar-benar lepas, Gandamana pun menyerahkan tiga pusaka agung warisan mendiang Pandu.
Sesuai wasiat, pusaka ini hanya boleh diberikan pada Pandawa jika mereka telah dewasa.
Kalung Robyong untuk Puntadewa, kalung yang memungkinkan sang sulung bertiwikrama menjadi raksasa pelindung dharma.
Aji Bandung Bandawasa untuk Bima, peningkat daya tenaga dan daya tahan tubuh luar biasa.
Aji Sepi Angin untuk Arjuna, yang membuat langkahnya tak terdengar dan serangannya mustahil dideteksi.
Dengan wafatnya Gandamana, suasana berkabung menyelimuti Pancala. Namun sesuai amanah terakhir, Dewi Drupadi resmi dinikahkan dengan Puntadewa. Sayembara pun usai, dan takdir besar Pandawa pun perlahan kembali ke jalurnya.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani