Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Keinginan Prabu Baladewa agar adiknya, Narayana, tinggal dan dimuliakan di Mandura ternyata tidak disambut seperti yang diharapkan.
Narayana yang tak lain adalah titisan Dewa Wisnu dan adik kandung Baladewa, justru menolak tawaran itu secara halus namun tegas.
Ia lebih memilih membangun jalannya sendiri, alih-alih menerima posisi mulia sebagai hadiah dari sang kakak.
"Kenapa kau menolak untuk tinggal di Mandura, Narayana?" tanya Baladewa, penasaran.
Ia berharap Narayana sudi menjadi penasihat kerajaan karena kecerdasan, kesaktian, dan keluhuran budinya. Selain itu, Narayana pun masih satu darah sebagai putra Prabu Basudewa.
Namun jawaban Narayana menegaskan prinsip hidup yang ia pegang teguh.
“Maafkan saya, Kaka Prabu. Bukannya saya menolak kemurahan hati Paduka. Namun aku harus memiliki pendirian sendiri. Aku tidak ingin menerima kemuliaan yang semata-mata diberikan layaknya sebuah hadiah. Aku harus berjuang sendiri mencari kemuliaanku sendiri,” tutur Narayana.
Penolakan itu membuat Prabu Baladewa diliputi kebingungan. Namun Patih Pragota, sesepuh Mandura yang bijaksana, segera memberi penjelasan.
Menurutnya, pilihan Narayana bukan karena tidak menghormati sang kakak, melainkan demi menjaga nama besar ayah mereka, Prabu Basudewa.
“Sinuwun, paduka seharusnya bangga pada Raden Narayana,” ujar Pragota.
“Ia seorang satria yang tidak mau mengandalkan kekuatan orang dalam dalam mencapai kesuksesan. Ia lebih bangga dan senang dalam mencari kejayaan lewat jalan perjuangan, bukan warisan.”
Baca Juga: Lakon Wayang Puntadewa Rabi 1, Sayembara Drupadi dan Janji pada Pandawa
Namun Baladewa tetap tak puas dengan jawaban itu.
“Apa maksudmu menjaga martabat kanjeng Rama Prabu Basudewa suwargi?” tanyanya. Patih Pragota lantas memberikan uraian yang menohok.
“Karena bila kesuksesan Raden Narayana kelak setara dengan Paduka, bahkan menjadi raja, maka nama almarhum Prabu Basudewa akan harum. Sebab anak-anaknya menjadi raja bukan karena dibantu, tetapi karena mampu berdiri di atas kaki sendiri.”
Baladewa hanya bisa menghela napas panjang mendengar hal itu.
Dalam diamnya, ia tahu bahwa Narayana telah menunjukkan nilai luhur seorang satria sejati: tidak mengambil jalan pintas demi kemuliaan, namun bersedia menempuh jalan terjal demi kehormatan dan martabat keluarga.
(Bersambung/*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani