Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Yudhakala Kresna 4, Arjuna dan Narayana Bersatu

Ki Damar • Kamis, 10 Juli 2025 | 02:45 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Yudhakala Kresna.
Ilustrasi tokoh wayang Yudhakala Kresna.

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Senyum Udawa tak sepenuhnya menggambarkan kebahagiaan. Di balik matanya yang berkaca-kaca, tersimpan kekhawatiran yang dalam.

Hatinya hanya bisa berharap satu hal, keselamatan Narayana.

“Kembalilah dengan selamat, Narayana. Aku tak peduli kau jadi raja atau aku jadi patih. Aku hanya ingin melihatmu kembali dalam keadaan utuh.”

Sementara itu, jauh di tengah keheningan hutan Pringgaperma, Permadi yang merupakan sang panengah Pandawa, terlihat sedang bercengkerama dengan para punakawan. Tiba-tiba, Narayana muncul bersama Batara Narada.

“Aku lihat kau sedang senang, hai adikku?” sapa Narayana hangat.

“Oh, Kakangmas Narayana! Ada apa kau datang mencariku?” balas Permadi sambil berdiri menyambut.

Tatapannya berubah serius ketika Batara Narada menyampaikan misi penting.

“Kahyangan sedang diserang Prabu Yudhakalakresna. Hanya kalian berdua, para titisan Wisnu, yang bisa menyelamatkannya,” tegas Narada.

Sebagai bekal, Batara Narada memberikan dua pusaka sakti.

Narayana akan mengendarai kereta perang bernama Kyai Jaladara.

Sementara Permadi menerima Bende Kyai Pancajannya, sebuah genderang gaib yang suaranya mampu melumpuhkan kekuatan lawan.

“Ini senjata apa, Pukulun?” tanya Permadi sambil memegang bende pusaka itu.

“Bende ini akan melumpuhkan siapa pun yang mendengar suaranya. Kau harus gunakan dengan hati-hati,” jelas Narada.

Tanpa menunggu waktu, Narayana dan Permadi segera berangkat ke medan tugas. Narayana naik ke atas kereta Kyai Jaladara, sementara Arjuna bersiap menjadi kusir.

“Apakah kau malu menjadi kusirku, Arjuna?” tanya Narayana sambil menoleh.

“Kenapa aku harus malu? Ini adalah kehormatan. Kusir seorang senopati perang yang membawa mandat dari para dewa,” jawab Arjuna mantap.

Mereka berpelukan. Dalam pelukan itu, Narayana berbisik janji yang tak akan dilupakan Arjuna seumur hidupnya.

“Suatu hari nanti, bila kau menjadi senopati dalam perang besar, aku yang akan menjadi kusirmu, Permadi.”

(Bersambung/*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#narayana #arjuna #Lakon #wayang