Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Kemenangan Antareja atas Prabu Praswapati bukan sekadar keberhasilan seorang satria dalam medan laga, melainkan penanda bahwa kekuatan manusia setengah dewa ini telah melampaui batas yang bisa ditoleransi oleh dunia para dewa.
Setelah berhasil mengalahkan raja Cedhipura hanya dalam satu jurus, dan membuat lari tunggang-langgang seluruh prajurit musuh, sang cucu Batara Antaboga berdiri angkuh di medan laga.
“Ayo, siapa lagi yang berani melawan Antareja?” teriaknya lantang. Tak seorang pun berani mendekat. Pusaka dijatuhkan, kaki melangkah mundur, dan medan laga menjadi sunyi di tengah jasad pemimpin mereka yang terbujur kaku.
Namun di tengah kemenangan itu, muncullah Prabu Kresna, raja Dwarawati yang juga merupakan titisan Hyang Wisnu. Ia mendekati Antareja dengan wajah penuh kasih namun serius.
“Kau sangat sakti, anakku. Siapa yang tidak tahu kehebatanmu? Tapi, kekuatan tanpa kendali adalah bahaya. Emosi yang tak terbendung akan menghancurkan pemiliknya. Kesombongan adalah awal dari kehancuran.”
Kata-kata Kresna menampar kesadaran sang satria muda. Antareja hanya bisa menunduk.
“Lalu aku harus bagaimana, uwak Prabu?” tanyanya pelan.
Kresna menarik napas.
“Aku mendapat petunjuk bahwa engkau, Antareja, harus kembali ke Hyang Widi. Keberadaanmu yang terlalu sakti telah membuat geger kahyangan. Jika kau terus hidup, maka tatanan Baratayudha akan rusak. Bahkan para dewa pun mengakui bahwa kau melampaui para satria lainnya.”
Antareja mengangguk. Ia tahu ini adalah takdirnya.
Sejak awal, Batara Antaboga telah memberi pesan agar ia mengikuti apa pun kehendak Prabu Kresna. Maka ia berserah diri pada keputusan langit.
“Kalau begitu, aku akan menjilat telapak kakiku sendiri, sebagai jalan untuk kembali ke asal. Tapi titip anakku, Danurwenda, pada paduka.”
Kresna berjanji akan menjaga Danurwenda dan memuliakannya sebagai darah keturunan satria agung.
Dengan langkah mantap, Antareja menjilat telapak kakinya sendiri, cara pamungkas yang menjadi simbol kematian dan pengembalian diri ke alam asal.
Ia rebah di hadapan Kresna, bukan sebagai pecundang, tapi sebagai satria yang diakui dunia, manusia, dan para dewa.
Langit hening. Bumi tunduk. Semesta mencatat: Antareja racut bukan karena dikalahkan, tapi karena memilih tunduk pada takdir agung yang menjaga keseimbangan jagat.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani