Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Antareja Racut 3, Cucu Batara Antaboga Melawan Takdir

Ki Damar • Jumat, 11 Juli 2025 | 01:45 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Antareja
Ilustrasi tokoh wayang Antareja

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Amarah kembali membuncah dalam hati Antareja. Setelah mendengar nasihat dari Batara Antaboga, sang cucu justru merasa tidak dimengerti.

Ia menuduh sang kakek memihak Gatutkaca, adik tirinya yang selama ini selalu jadi sorotan dalam keluarga Pandawa.

“Apakah eyang memihak Gatutkaca?” tanya Antareja penuh curiga.

Namun Batara Antaboga, sang dewa bumi yang bijak, menjawab tenang. “Eyang adalah dewa. Tidak memihak siapa pun, hanya memihak pada keadilan.”

Tak puas dengan jawaban itu, Antareja memutuskan pergi. Ia ingin membuktikan diri. Tujuannya jelas: menuju Amarta.

Di sana, ia hendak menyampaikan langsung kepada para pepunden Pandawa bahwa dirinya juga layak menyandang jabatan senopati.

Sebelum berangkat, Batara Antaboga sempat memberikan satu pesan misterius.

“Jika kelak kau bertemu dengan uwakmu, Prabu Kresna, maka ikutilah semua kehendaknya. Karena dari situ, kau akan menemukan jalan terbaik untukmu.”

Antareja hanya mengangguk. Ia tak tahu, bahwa pesan itu adalah isyarat akan datangnya jalan takdir yang tragis.

Sementara itu di tempat lain, awan muram menggulung di atas langit Kerajaan Cedhi.

Prabu Praswapati, penguasa muda negeri itu, menerima wangsit yang mengejutkan: ayahandanya, Prabu Supala, ternyata tidak wafat karena sakit seperti yang diceritakan selama ini.

Ia tewas di tangan Prabu Kresna, raja Dwarawati. “Betul atau tidak, Gog?” tanya Praswapati dengan sorot mata membara.

Togog, punakawan setia, terdiam. Kaget sekaligus bingung harus menjawab apa. Tapi dari raut wajahnya, Praswapati tahu bahwa wangsit itu bukan sekadar isapan jempol.

“Aku ini anak. Harus mendem jero, mikul dhuwur asmane wong tuwa. Aku tak akan tinggal diam. Dendam ini akan kutebus! Utang pati, nyaur pati!”

Dengan tekad membara dan jiwa muda yang meledak-ledak, Praswapati pun bersumpah akan menggempur Dwarawati demi menuntut balas.

Perang besar tak terhindarkan, dan jalur takdir Antareja pun mulai terhubung ke pusaran konflik berdarah yang akan mengubah segalanya.

(bersambung/*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#antareja #Kresna #Lakon #wayang