Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Dendam lama akhirnya pecah dalam bentuk perang terbuka. Di Kerajaan Cedhi, Prabu Praswapati, anak dari Prabu Supala yang tewas di tangan Kresna, telah bulat tekad membalas utang darah orang tuanya.
Meski Togog, sang punakawan, mencoba menasihati dengan kalimat lirih berbahasa Jawa halus, namun amarah sang raja sudah membara.
‘’Jenengan namung bade njembaraken raos geting. Damar mancung cinupet sak monten niki mawon, Gus,’’ kata Togog lirih. Namun justru kemarahan yang ia dapat. “Kau juga bersalah, Gog. Telah menutupi kematian ayahku!”
Akhirnya, pasukan Cedhipura pun diberangkatkan. Target mereka satu: membunuh Prabu Kresna, raja Dwarawati.
Namun jalan takdir selalu lebih cepat dari niat manusia. Di sisi lain, Prabu Kresna baru saja bangkit dari tapa panjang. Dalam sunyi dan jernihnya batin, ia mendapat wangsit berat: mengembalikan Antareja kepada sang pencipta.
Sebuah petunjuk yang membuat hati sang raja bergetar. Namun seperti biasa, Kresna tidak bisa menolak titah langit.
Saat itu pula, Antareja mengetahui gerak pasukan Cedhi. Ia menyergap mereka di tengah jalan sebelum sempat menembus Dwarawati. Sorot matanya tajam. Wibawanya membuncah. Tubuh bersisiknya memantulkan cahaya surya.
“Siapa kau, satria bersisik yang menghadangku?” tanya Prabu Praswapati.
“Aku Antareja. Dari dalam tanah, aku dengar kau ingin membunuh uwakku, Prabu Kresna. Benarkah itu?”
Praswapati tidak menggubris. “Kalau kau kerabat Dwarawati, maka kau juga musuhku. Siapkan dirimu!”
Namun Antareja tak gentar. Ia justru menyergah, dengan penuh kebanggaan. “Lupakan harapanmu bertemu Kresna. Kau takkan sampai ke sana. Aku akan penggal kepalamu dan persembahkan padanya. Dan ia pasti akan bangga padaku!”
Pertarungan pun pecah. Tanpa aba-aba, dua kekuatan muda saling melontarkan pukulan dan jurus pamungkas.
Namun apa daya, dalam satu momen yang tak disangka, Antareja lengah. Praswapati menghantam balik. Dalam sekejap, Antareja menjilat bekas telapak kaki Praswapati—tanda maut bagi manusia setengah dewa itu.
Antareja tergeletak. Tak bernyawa. Tubuhnya terbujur di tanah. Seorang satria Pandawa gugur bukan karena perang besar, tetapi karena dendam yang mengalir dari sejarah kelam antargenerasi.
Langit pun tampak muram. Karena Antareja, anak sulung Bima dan cucu Batara Antaboga, telah racut dari dunia wayang.
(bersambung/*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani