Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“Bukankah mereka saling mencintai, Pukulun?” tanya Batara Brama dengan nada ragu.
Pertanyaan itu disampaikan kepada Batara Guru, penguasa jagad kahyangan Suralaya, yang memerintahkan Brama untuk memisahkan putrinya, Dresanala, dari Arjuna. Sebab, anak Batara Guru sendiri, Dewa Srani, juga menaruh hati pada Dresanala.
Sebagai ayah, Batara Guru merasa bersalah karena selama masa kecilnya, Dewa Srani tumbuh tanpa kasih sayang.
Karena itu pula, Hyang Manikmaya, yang juga dikenal sebagai Hyang Jagadnata, berniat membalas kelalaiannya sebagai orang tua dengan memberikan Dresanala kepada anaknya, meski cucunya sendiri harus dikorbankan.
“Brama, apakah kau menolak titahku sebagai penguasa Suralaya?” gertak Batara Guru dengan sorot mata menyala. “Atau hendak kau lebur bersama panasnya kawah Candradimuka? Atau hancur bersama Cundamanik yang kau junjung?”
Batara Brama hanya bisa tertunduk. Dalam hati, ia ingin sekali menentang titah itu.
Tapi keberaniannya runtuh oleh kekuasaan Hyang Jagad Girinata, ayahnya sendiri. Sungguh dilema yang tak terelakkan. Antara perintah raja langit atau amarah sang putri.
Namun, akhirnya hanya satu kalimat yang keluar dari bibirnya.
“Sendika dawuh, Pukulun.”
Dengan itu, pertemuan antara dua dewa agung pun berakhir. Mereka berpisah di jembatan langit, penghubung antara Repat Kepanasan dan Suralaya.
Dari kejauhan, Batari Durga, mantan istri Brama dan ibu Dresanala, tiba-tiba mendekat. Wajahnya tak menyiratkan rasa lega, hanya dingin dan penuh perhitungan.
“Apakah sudah ada keputusan dari Pukulun Brama?” tanyanya tanpa basa-basi.
Batara Guru menoleh perlahan, suaranya berat. “Sudah, Durga. Apakah kau puas sekarang? Setelah Arjuna meninggalkan Suralaya, suruh Dewa Srani temui Dresanala. Tapi jangan buat gaduh kahyangan. Dan… setelah ini, jangan ganggu aku lagi. Kejadian ini telah mencoreng martabatku sebagai dewa. Aku telah gagal bersikap bijak sebagai pengayom para makhluk.”
(Bersambung/*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani