Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Arjuna Tundung 3, Teror Durga untuk Sang Putra Ksatria

Ki Damar • Senin, 14 Juli 2025 | 03:00 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Arjuna.
Ilustrasi tokoh wayang Arjuna.

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Tanpa sepatah kata pun, Arjuna meninggalkan kahyangan. Dadanya sesak oleh keputusan Batara Brama. Ia tahu, waktunya di Suralaya telah usai. Amarta, tanah para Pandawa, memanggilnya pulang.

‘’Apa yang telah Rama lakukan?’’ tangis Dresanala pecah.

‘’Mengapa Pangeran Arjuna pergi tanpa pamit? Tidakkah Rama ingat bahwa aku sedang mengandung, dan sangat membutuhkan kasih sayang seorang suami?’’

Batara Brama tak menjawab. Ia hanya berbalik, menyembunyikan air mata yang mulai membasahi wajah tuanya. Hatinya hancur, namun lidahnya kelu.

‘’Dresanala,’’ suara ayahnya terdengar lirih, ‘’lupakan Arjuna... dan terimalah Dewa Srani.’’

Dresanala membelalak. Kalimat itu seperti sembilu menancap di dadanya. ‘’Apakah ini keputusan Rama Pukulun? Aku tak percaya... Ayah yang mencintaiku tega memaksaku menjadi milik pria lain.’’

Batara Brama tak sanggup menatap wajah anaknya. Ia berlari, menahan sesak yang nyaris meledak.

Tiba-tiba Batari Durga datang, diiringi Dewa Srani, putranya. Dengan suara licik, Srani berkata, ‘’Mari ikut denganku, Dresanala. Aku akan memuliakanmu di ranjang istana yang megah.’’

Dresanala menatap tajam. ‘’Tak sudi aku bersama lelaki yang masih menggantung pada ibunya! Kau pengecut! Mengandalkan kekuasaan untuk merampas apa yang bukan hakmu! Lebih baik aku mati daripada menikahimu!’’

Kemarahan Batari Durga pun meledak. Tangannya terayun, menampar Dresanala dengan keras. Tubuh Dresanala limbung.

Dalam kesakitan yang luar biasa, ia merintih... dan seketika, bayinya lahir.

‘’Wah, kebetulan sekali, Ibu,’’ seru Dewa Srani. ‘’Bunuh saja anak itu. Aku tidak mau menikahi perempuan yang sudah punya anak. Hanya akan merepotkan!’’

Durga mengangguk dingin. ‘’Yamadipati, penjaga Candradimuka! Bawa anak ini ke neraka! Aku perintahkan agar bayi ini dimusnahkan!’’

Yamadipati muncul dari kabut. Namun ia ragu. ‘’Ampun, Hyang Batari. Bukannya hamba menolak... namun takdir telah ditulis. Anak Arjuna ini tidak seharusnya mati. Sebab suatu hari kelak, ia...’’

‘’Cukup!’’ bentak Batari Durga memotong ucapan sang dewa penjaga neraka.

Ketegangan memenuhi udara. Takdir besar sang bayi mulai terbuka...

(Bersambung/*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#arjuna #Lakon #wayang