Lakon Wayang oleh Ki Damar*
‘’Kau pengecut! Dewa lain saja!’’ teriak Batari Durga murka kepada Yamadipati yang menolak membunuh bayi Dresanala. ‘’Temboro! Kau saja yang bawa bayi ini dan lemparkan ke neraka!’’
Temboro, dewa rendahan yang ketakutan, tak berani membantah. Dengan tubuh gemetar, ia menggendong bayi yang baru lahir dalam usia tujuh bulan kandungan itu.
Tangis bayi itu lirih, seakan memohon belas kasih dunia yang tak memberinya ruang hidup.
Di sisi kawah Candradimuka, Semar sedang bersenandung lirih, namun matanya tajam mengawasi jagad. Ia tahu ada kebusukan tengah terjadi di kahyangan.
“Hai kau, Kawah Candradimuka! Jika benar bayi ini suci dan tak bersalah, dan kau tetap menghanguskannya, kelak kau akan kehilangan wibawa di mata seluruh penghuni langit dan bumi!” seru Semar, menggema ke seluruh cakrawala.
Kawah pun menggigil. Api yang biasa membara tiba-tiba menjadi sejuk saat tubuh bayi itu menyentuh nyalanya.
Temboro terpaku. Api Candradimuka yang selama ini menjadi neraka bagi para pendosa, kini menjadi pelindung bagi sang bayi suci.
Semar tersenyum. “Bayi ini luar biasa. Bahkan manusia dewasa akan hangus dalam bara seperti ini. Tapi ia cucu Batara Brama, Dewa Api. Panas begini tak akan mampu menyentuh jiwanya.”
Dengan penuh kasih, Semar mengangkat sang bayi dari kawah.
Dalam pelukannya, sang bayi tumbuh pesat, dari jabang bayi menjadi remaja yang tampan dan bercahaya.
“Namamu kini Raden Wisanggeni,” ucap Semar khidmat. “Artinya yang menyatu dan menguasai segala bentuk api.”
Wisanggeni muda menatap langit, penuh tanya. “Aku ada, pastilah ada yang mengadakan. Tapi siapakah aku sebenarnya, Mbah?”
Semar tersenyum bijak. “Kau putra Arjuna, satria utama. Kini naiklah ke kahyangan dan tanyakan kepada para dewa. Siapa dirimu? Jika mereka pura-pura tak tahu... hajar saja!”
Tanpa ragu, Wisanggeni membumbung ke angkasa. Ia menyusuri kahyangan, mendatangi setiap dewa yang dijumpainya.
“Apakah engkau dewa?” tanyanya dengan suara penuh wibawa. “Dan apakah kau tahu siapa aku?”
Batara Indra yang tengah duduk di singgasananya, terperangah menatap pemuda menyala itu...
(Bersambung/*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani