Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Dalam sunyi Hutan Kamyaka, tampak Puntadewa berjalan sendiri, menjauh dari saudara-saudaranya.
Pengasingan Pandawa selama dua belas tahun menjadi titik balik dalam kisah Mahabharata, khususnya bagi sang sulung yang dikenal sebagai pribadi luhur, Mustikaning Laku.
Ia bukan hanya memikul beban sebagai pemimpin, tetapi juga rasa bersalah yang menghantui batinnya.
Puntadewa merasa dirinya menjadi sebab penderitaan para Pandawa. Kekalahan dalam permainan dadu melawan Duryudana membuatnya larut dalam rasa bersalah.
Baca Juga: Lakon Wayang Arjuna Tundung 1, Cinta yang Dipisahkan Batara Guru
"Bila alam juga murka, maka biarkanlah aku di sini dan menerima hukuman oleh alam. Aku seorang kakak yang tidak bisa berguna bagi adik-adikku," gumamnya lirih, penuh penyesalan.
Namun, justru alam menjawab keluhnya dengan kelembutan.
Dedaunan di atas kepala Puntadewa mengembang rimbun, seperti ingin memayungi sang raja suci dari sinar matahari yang menyengat.
Angin berembus lembut, dan suara gemerisik daun seolah menjadi bentuk empati semesta terhadap batin yang luka.
Baca Juga: Resep Cakwe Goreng Asli Tiongkok, Camilan Sejarah Dinasti Song yang Gurih dan Renyah
Di saat sunyi itu, tiba-tiba terdengar kegaduhan dari semak belukar. Seekor harimau tengah memburu rusa.
Nafas sang rusa tersengal, terpojok dalam ketakutan. "Diamlah, aku akan membunuhmu secara perlahan-lahan.
Aku tidak akan menyakitimu," ucap sang harimau dengan dingin. Namun, rusa itu merintih penuh harap.
"Harimau, ketahuilah, aku mempunyai anak yang sekarang sedang menungguku pulang. Maka gerakkanlah hatimu untuk membebaskanku dari incaranmu."
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani