Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Suryatmaja 2, Jawaban Mengejutkan Sang Guru Durna

Ki Damar • Rabu, 16 Juli 2025 | 01:00 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Durna ahli memanah
Ilustrasi tokoh wayang Durna ahli memanah

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Di antara debu gelanggang dan tatapan para ksatria muda, sebuah pelajaran penting tentang ilmu, kekuatan, dan kehendak disampaikan oleh sang guru agung.

Dalam sesi latihan para satria di istana Hastinapura, Panembahan Durna memberikan wejangan mendalam.

“Pertanyaan yang bagus,” ujarnya menanggapi salah satu murid.

“Setiap murid tidak menguasai semua materi, dan itu bukan kegagalan. Dari situlah kita sadar bahwa manusia tidak sempurna, dan pentingnya kolaborasi serta saling membantu. Bahkan dalam ilmu perang, kemenangan seorang senopati ditentukan oleh kawan-kawan seperjuangan.”

Puntadewa mengangguk dalam-dalam, menyerap makna dari kalimat gurunya.

Ia belajar bahwa kesempurnaan tidak datang dari individu, melainkan dari kebersamaan.

Namun, suasana damai itu mendadak tegang saat Kurupati –atau yang dikenal sebagai Suyudana– melontarkan celaan.

“Ilmu yang kau berikan tidak penting. Yang penting adalah kemauan untuk menang. Ketika manusia benci kekalahan, ia akan melakukan apa saja untuk menang.”

Seketika gelanggang menjadi panas. Kurupati menantang Pandawa, dan Bima pun maju mewakili saudaranya. Durna setuju.

“Tekad memang perlu, anakku. Tapi tanpa ilmu, tekad hanyalah bara yang membakar diri.”

Pertarungan pun dimulai. Dua saudara berbeda jalan hidup itu saling berhadapan, bertarung dengan tangan kosong.

Hanya dalam beberapa gerakan, Bima berhasil menjatuhkan Kurupati. Sorak sorai menggema dari para prajurit Astina. Kurupati terdiam, lalu marah.

“Dia curang, Bapa!” seru Kurupati, mencoba menyelamatkan harga dirinya.

Namun Durna dengan tenang menjawab, “Tidak ada kecurangan. Aku sebagai guru memperhatikan dengan cermat. Bila ada yang tidak benar, sudah aku hentikan sejak awal.”

Malu dan amarah bercampur di wajah Kurupati. Tapi di sisi lain, Bima tak bersorak atau membusungkan dada.

Ia berdiri diam, penuh penghormatan pada adiknya yang kalah, serta pada guru yang telah mengajarkan nilai sejati dari kekuatan.

Di tengah pertarungan itu, pelajaran utama tak datang dari pukulan, tetapi dari keikhlasan, kebijaksanaan, dan kendali atas amarah.

Karena sesungguhnya, yang paling kuat bukanlah yang menang adu otot, tapi yang mampu menaklukkan egonya sendiri.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#bima #Durna #Lakon #wayang