Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Dalam balairung istana Alengkadiraja, ketegangan sempat menyelimuti suasana.
Tatapan curiga Rahwana kepada Prahasta bukan hanya mencerminkan kecurigaan biasa, ia adalah bara lama yang nyaris menyala kembali.
“Paman,” ujar Dasamuka, nadanya merendah namun dingin seperti embun di ujung pedang, “aku tahu kenapa kau berkata begitu. Diam-diam kau ingin menjadi raja di Alengka, bukan? Singgasana ini pernah kau incar, dulu, saat kekuatanmu masih penuh.”
Prahasta tertegun. Suasana menegang.
“Tapi bukankah waktu itu kau kalah olehku, paman? Dan kau sendiri yang menyerahkan negara ini padaku. Jangan pura-pura lupa,” lanjut Dasamuka, suaranya mencabik kehormatan.
Prahasta bangkit perlahan, menunduk dalam-dalam.
“Paduka anak prabu... paman ini tak punya niat seperti itu. Sejak awal, hamba lahir dan batin menyerahkan seluruh kesetiaan kepada paduka. Alengka adalah milik paduka. Kemegahannya, kemuliaannya, tak pantas diperebutkan oleh siapa pun.”
Dasamuka masih memandangi pamannya penuh selidik.
“Tapi aku tahu kau pernah memandang singgasana ini dengan hasrat, paman. Matamu tak bisa berbohong.”
“Oh, anak prabu,” suara Prahasta lirih, “yang hamba lihat bukan singgasana emasnya, tapi bayang-bayang dari Kanjeng Prabu Sumaliraja, eyang paduka. Dulu beliau duduk di kursi yang sama dengan kebijaksanaan yang melegenda. Dan paduka... paduka mengingatkan hamba pada beliau. Wibawa paduka tak berbeda.”
Perkataan itu menembus dada Rahwana. Hatinya luluh. Tegangnya suasana sedikit mencair. Ia mengangkat tangan.
“Baiklah. Duduklah kalian semua. Ada hal penting yang harus kalian ketahui,” ujar Dasamuka dengan suara lebih tenang.
Semua pun kembali ke tempat duduknya. Para panglima, bupati, tumenggung, dan punggawa menajamkan telinga.
Rahwana menarik sebuah lembar daun lontar dari balik jubah emasnya. Di sana tertera wangsit langit terbaru, yang dibawa oleh penunggu Gunung Rawapati dalam semedinya semalam.
“Wangsit ini menyebutkan, bahwa kekuatan bala wanara, para prajurit kera yang mendukung Ramawijaya, dapat dilemahkan oleh kembang Dewaretna. Kembang ini tumbuh hanya di Kahyangan Puspawedhar,” ujar Rahwana, suaranya menggema di seluruh ruangan.
Ruangan seketika hening. Semua mata saling berpandangan.
“Anak prabu... bukankah Kahyangan Puspawedhar adalah tempat kediaman kakanda paduka, Prabu Danapati?” tanya Prahasta hati-hati.
Rahwana mengangguk pelan. “Benar, paman. Danapati adalah kakakku, tapi jalan hidup kami berbeda. Ia menolak kekuasaan duniawi, memilih hidup suci sebagai penjaga puspita langit. Tapi kali ini, aku harus meminta sesuatu darinya.”
Indrajit maju setapak. “Ayahanda, bila diizinkan, izinkan hamba yang berangkat menemui Prabu Danapati dan meminta kembang itu.”
Rahwana menatap putranya lama, lalu tersenyum tipis.
“Kau adalah harapanku, anakku. Tapi ingat, kembang Dewaretna bukan bunga biasa. Ia tak bisa diminta dengan paksaan. Hanya hati yang bersih dan niat yang murni yang bisa membuatnya mekar.”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani