Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Konflik antara dua kakak beradik memuncak di kahyangan Puspawedhar.
Rahwana, atau Dasamuka, yang datang dengan maksud meminta Kembang Dewaretna, akhirnya menunjukkan niat tersembunyinya.
Bukan untuk keindahan Alengka, melainkan sebagai senjata melawan pasukan Prabu Ramawijaya.
Namun, sang kakak Batara Daneswara, tetap teguh memegang prinsip.
“Maafkan aku, Rahwana. Bunga ini harus tetap di kahyangan. Aku tahu niatmu sesungguhnya, kau ingin memanfaatkannya untuk mengalahkan pasukan kera Ramawijaya.”
Mendengar hal itu, Rahwana murka. Ia menuduh para dewa telah berpihak pada pihak manusia dan kera.
“Sejak kapan para dewa berpihak? Apa dewa sekarang dicampuri kepentingan hingga melupakan keadilan?” teriaknya geram.
Daneswara tetap tenang, “Dewa tidak berpihak. Kami hanya menegakkan keadilan bagi yang berbuat dosa di bumi.”
Namun api dendam Dasamuka tak lagi bisa dipadamkan.
Ia menyeret kakaknya keluar dan terjadilah pertarungan hebat di kahyangan.
Daneswara, yang kini menjadi dewa ilmu, nyaris tak bisa membendung amukan Dasamuka.
Dengan kekuatan penuh, Rahwana berhasil melumpuhkan Daneswara dan mencabut bunga Dewaretna dari tempat sucinya.
“Haha! Dasar dewa lemah. Maafkan aku, kakak. Bunga ini milikku sekarang!” seru Rahwana, lalu melesat kembali ke Alengka dengan kemenangan di tangannya.
Tak lama berselang, Batara Narada datang membawa kumbang yang lahir dari bunga Dewaretna.
“Maafkan aku, Pukulun. Aku tak sanggup menahan adikku,” ucap Daneswara lirih.
Narada hanya menjawab dengan bijak, “Jangankan engkau, dewa lain pun takkan mampu menahan Rahwana.”
Narada kemudian memuja kumbang bunga itu, yang kemudian menjelma menjadi seekor kera hitam bernama Kapi Premuja.
Tugasnya satu, menyampaikan kabar pencurian bunga suci ini kepada Prabu Ramawijaya. Pertanda bahwa perang besar di bumi akan segera tiba.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani