Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Naga Nemburnawa 5-Habis, Perang Batin yang Telah Ditakdirkan

Ki Damar • Senin, 21 Juli 2025 | 03:30 WIB
Ilustrasi cerpen lakon wayang Naga Nemburnawa
Ilustrasi cerpen lakon wayang Naga Nemburnawa

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Seekor naga raksasa yang tengah bertapa di dasar samudra mendadak terusik. Ia mengira Bratasena adalah santapan yang lancang masuk ke wilayah sucinya. Tanpa ampun, naga itu melesat, tubuhnya sebesar gunung melingkar cepat, dan seketika melilit tubuh Bratasena.

Satria Pandawa itu terseret hingga ke dasar, tubuhnya terkunci kuat oleh lilitan naga, nafasnya mulai tercekik, kekuatannya terkuras.

"Makhluk apa ini? Lilitannya kuat sekali… bila terus begini, aku bisa mati."
Dalam sesak, Bratasena masih mampu berbisik pada hatinya sendiri.

"Tenanglah… kuasai dirimu. Ketika manusia mampu menguasai hatinya, maka ia sejatinya telah menaklukkan dunia."

Ia menarik napas perlahan, mengolah keheningan dalam dada. Dalam hening itulah, ia memusatkan sisa kekuatannya. Dan saat itu pula, kuku Pancanaka, warisan Pandawa yang selalu menempel di jemarinya, memanjang satu jengkal, tajam seperti niat yang telah matang.

Dengan satu hentakan, kuku Pancanaka menancap di tubuh naga. Darah menyembur dari sisik makhluk laut itu, mengubah biru samudra menjadi merah pekat. Naga itu meraung, menggeliat, dan hendak naik ke permukaan laut, namun ekornya masih digenggam kuat oleh Bratasena.

Namun naga tak menyerah. Ia kembali melilit tubuh Bima, kini lebih erat, lebih mengancam, hingga seakan-akan tulang sang satria hendak remuk dihimpit kekuatan buas itu.

Bratasena mulai lemas. Pandangannya mengabur. Tetapi dalam gelap pikirannya, satu sosok hadir... ibunya, Dewi Kunti. Dan satu kalimat terngiang:

"Tidak ada jimat di dunia ini yang lebih kuat daripada restu ibu."

Semangatnya kembali menyala. Dalam satu gerakan penuh tenaga batin, Bratasena menyobek mulut naga itu dengan tangan kosong. Naga meraung panjang dan akhirnya mati.

Namun, keanehan terjadi. Saat tubuh naga terkulai, bangkainya seketika lenyap, tak menyisakan sisik, tak menyisakan tulang. Hanya darahnya yang mengapung, bercampur dengan samudra.

Bratasena tercengang. Dalam sunyi, sebuah suara gaib membisik. "Itulah Naga Nembur Nawa… jelmaan dari hawa nafsumu sendiri."

Pertarungan itu ternyata bukan melawan makhluk biasa. Tapi perang batin. Hawa nafsu yang selama ini melilit manusia dari dalam. Ia muncul sebagai naga karena telah mencapai puncak kekuatan spiritual.

Dan kini Bratasena telah menang. Menang melawan dirinya sendiri. Sebab siapa yang menaklukkan diri, ia tak hanya menemukan jati dirinya, tetapi juga mendekat pada kebenaran sejati.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#naga #Pandawa #Lakon #wayang