Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Di Negara Panjanggribig, Prabu Merak Kasimpir tengah diliputi kebahagiaan. Negeri yang dahulu sering dilanda gagal panen dan bencana, kini berubah menjadi makmur. Dalam bidang ekonomi, budaya, dan pendidikan, segalanya semakin membaik.
Kemakmuran itu diyakini sebagai berkah dari Dewa Sandang dan Pangan, Batari Sri dan Batara Sadana.
Sebagai bentuk penghormatan, sang prabu membangunkan pesanggrahan mewah untuk kedua dewa tersebut. Tempat itu tak pernah sepi oleh rakyat yang ingin menimba ilmu.
Batari Sri dan Batara Sadana dengan suka hati memberikan pengarahan tentang cara mengelola hasil bumi dan usaha secara bijak. Rakyat pun antusias karena panen mereka melimpah ruah.
Raden Nilatatsaka, sang putra mahkota, turut berbahagia.
Ia merasa perlu melakukan sesuatu agar Batari Sri bersedia menetap di negerinya. Seiring waktu, rasa kagum itu berubah menjadi cinta.
“Rama Prabu, apakah Batari Sri dan Batara Sadana akan menetap di negeri kita?” tanya Nilatatsaka pada ayahandanya.
“Nilatatsaka, Ayah tak tahu pasti. Berdoalah, semoga mereka berkenan tinggal. Lihatlah, negeri kita menjadi makmur sejak mereka datang. Ayah hanya minta satu hal. Jaga kepercayaan mereka, dan jangan mengganggu Dewa Sandang dan Pangan ini.”
Sang prabu menyimpan harapan besar kepada anaknya untuk menjaga kehormatan dan kesejahteraan negeri.
“Tenanglah, Rama Prabu. Hamba akan memikirkan cara agar Batari Sri tetap tinggal di negeri ini,” jawab sang putra dengan mantap.
Prabu Merak Kasimpir tersenyum bangga mendengar niat baik sang anak. Usai berpamitan, Nilatatsaka berjalan meninggalkan istana. Dalam perjalanan, ia berpapasan dengan Togog.
“Togog, berhenti!” seru Nilatatsaka.
Togog pun menoleh dan segera menghampiri. “Iya, hamba, Raden. Apakah ada yang bisa hamba bantu?”
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani