Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Mendengar ada tamu lelaki masuk ke dalam pesanggrahan, Nilatatsaka tersulut amarah. Ia langsung mendobrak pintu tempat Batari Sri dan Batara Sadana bersemayam.
Prabakusuma yang hendak keluar dari ruangan itu langsung disambarnya. Tanpa basa-basi, putra mahkota Panjanggribig itu melayangkan pukulan.
“Rasakan ini! Berani sekali kau masuk ke tempat seorang dewi yang aku cintai!” teriak Nilatatsaka penuh emosi.
Ucapan itu membuat Batari Sri terkejut. Ia segera turun tangan memisahkan keduanya.
Dengan mata memancarkan wibawa, Batari Sri bersabda, “Aku ini dewi, wahai Nilatatsaka. Mustahil aku membalas cinta seorang manusia. Ketahuilah, aku tegaskan, aku tidak akan pernah menerima cintamu.”
Mendengar itu, Nilatatsaka tersentak, namun ia tetap mencoba merendah.
“Hyang Batari Sri... hamba sangat berhutang budi paduka. Maka janganlah paduka marah kepada hamba. Kanjeng Rama Prabu pasti akan murka bila paduka sampai merasa tersakiti.”
Namun Batari Sri tak luluh. Ia memandang tajam.
“Kalau begitu, perbaikilah sikapmu, Nilatatsaka! Tindakmu telah melewati batas. Aku dan Batara Sadana akan kembali ke Amarta. Tempat ini sudah tak lagi kondusif. Kau, anak raja yang kehilangan tata krama. Berani mendobrak pesanggrahan tempat kami bersemayam. Apakah kami tak kau hormati sebagai dewa-dewi?”
Tanpa berkata lagi, Batari Sri dan Batara Sadana pun meninggalkan Panjanggribig, terbang menuju Amarta dalam cahaya kemilau.
Melihat itu, Prabakusuma pun turut mengejar untuk menjaga keselamatan kedua dewata.
Baca Juga: Desa Ngrendeng Dorong Ternak Kambing Jadi Sumber Ekonomi Baru Warga
“Aduh, bagaimana ini bila Kanjeng Rama tahu...” gumamnya gelisah.
Namun di sisi lain, Sang Prabu Merak Kasimpir rupanya telah mengetahui segalanya. Ia bersabda dalam hati.
“Terlambat sudah. Aku telah mengamati gerak-gerikmu, anakku. Kau telah keterlaluan. Aku menyuruhmu menjaga kehormatan keluarga dan menghormati tamu agung. Tapi kau justru membuat mereka kecewa. Bila kau tak mampu menebus kesalahan dan memulangkan mereka, maka gelar putra mahkota akan aku cabut darimu.”
Dengan perasaan kalut dan tekad membara, Nilatatsaka pun mengejar Batari Sri. Ia menggunakan ajian Penggandan, sebuah ilmu sakti untuk melacak jejak seseorang melalui aroma tubuh dan energi halusnya.
Sesampainya di gerbang Amarta, Prabakusuma yang sudah lebih dulu tiba langsung dicegat oleh Werkudara.
“Uwak Bima, seseorang mengejar di belakang. Ia datang membawa maksud yang bisa mengganggu Hyang Batari Sri dan Batara Sadana. Aku mohon, lindungi mereka,” kata Prabakusuma.
Bima melangkah gagah. “Mundurlah, Prabakusuma. Serahkan padaku.”
Saat itu, Nilatatsaka tiba. Namun langkahnya langsung terhalang tubuh tinggi besar Werkudara.
“Jika kau hendak membuat keributan di tanah suci ini, maka aku akan menjadi lawanmu,” ujar Bima dengan suara menggelegar.
Nilatatsaka tak mundur. Ia membalas, “Justru kaulah yang akan celaka, manusia bongsor!”
Tak bisa dihindari, perkelahian antara Nilatatsaka dan Bima pun pecah di tanah Amarta. Langit seolah ikut mendung, menyaksikan benturan takdir antara putra raja yang terluka oleh cinta dan kesatria Pandawa yang menjunjung kehormatan.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani