Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Nilatsaka 5-Habis, Sang Abdi Setia yang Menjaga Padi

Ki Damar • Rabu, 23 Juli 2025 | 04:00 WIB
Ilustrasi tokoh wayang Batari Sri
Ilustrasi tokoh wayang Batari Sri

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

Nilatatsaka terdesak dalam perkelahian sengit melawan Werkudara. Tubuhnya berputar menyambar, namun kekuatan lawan tak tertandingi.

Dalam keterjepitannya, sang putra mahkota Panjanggribig mengerahkan ajian pamungkas. Seketika tubuhnya berubah wujud menjadi seekor ular berbisa, berkilat sisiknya, bergetar lidahnya, dan menyala matanya.

Perubahan drastis itu menarik perhatian langit dan bumi. Maka muncullah Prabu Kresna, Sang Pemilik Wibawa, dari Dwarawati. Dengan suara tenang namun penuh wangsit, ia memerintah, “Berhentilah kalian! Nilatatsaka, kenapa kau bertindak sejauh ini? Ceritakanlah pada diriku.”

Dengan tubuh melingkar dan mata merah bersinar, Nilatatsaka menjawab, “Hamba sangat senang dan cinta pada Batari Sri, Sinuwun. Hamba tak sanggup berpisah darinya.”

Kresna mengangguk arif. “Maka ada satu cara agar Batari Sri tetap merasa dekat dan bersamamu.”

Nilatatsaka menengadah, berharap. “Bagaimana caranya, Sinuwun?”

“Batari Sri adalah dewanya pangan, lambang kemakmuran, dan perwujudan padi. Maka hiduplah engkau di sawah. Makanlah hama yang mengganggu tanaman. Dengan begitu, Batari Sri akan kagum kepadamu karena merasa dilindungi olehmu,” tutur Kresna lembut.

“Baiklah, Sinuwun,” jawab Nilatatsaka mantap. “Aku akan ke sawah dan menjaga padi. Apapun yang merusak padi, siapapun hama yang datang, akan aku singkirkan!”

Dengan niat tulus dan wujud ular, Nilatatsaka pun menuju persawahan. Sejak saat itu, ia menjaga ladang padi sebagai lambang pengabdian kepada Batari Sri.

Namun belum habis perkara. Prabu Merak Kasimpir, ayahanda Nilatatsaka, menyusul dan menyaksikan perubahan anaknya menjadi ular.

Dada sang prabu bergemuruh. Ia memekik, “Berani sekali seseorang membuat anakku, putra mahkota Panjanggribig, menjadi ular! Maka bunuhlah aku juga, hai raja berkulit hitam!”

Kemarahan itu disambut Werkudara dengan kesatria. Ia meladeni tantangan sang raja.

Namun ketika pertarungan terjadi, sesuatu yang tak terduga terjadi. Tubuh Prabu Merak Kasimpir tiba-tiba berubah menjadi sebatang kayu harum.

Werkudara berhenti dan memandang heran. “Ini apa, Kresna Kakangku?”

Kresna menatap kayu itu dengan tatapan dalam.

“Ketahuilah, Werkudara. Karena ia turut merasakan kebahagiaan anaknya dalam mengabdi kepada Batari Sri, maka tubuhnya menjelma menjadi kayu harum. Ia kini menjadi lambang lumbung, tempat menyimpan padi. Sifat baiknya akan abadi, dan kayu ini layak disimpan di sentong keraton sebagai penjaga hasil bumi.”

“Artinya... kedua manusia tadi adalah penjaga Batari Sri?” tanya Bima pelan.

“Benar,” ujar Kresna. “Suatu saat, masyarakat akan mengenal lumbung sebagai tempat menyimpan padi, terhindar dari tikus dan hama. Negara ini takkan kekurangan pangan. Tapi ingatlah, bila budaya ini mulai ditinggalkan, maka Batari Sri akan pergi mencari tempat lain. Ia hanya menetap di negeri yang masih menjaga warisan budaya dan menghormati alam serta pangan.”

Langit menjadi cerah kembali. Angin sawah berdesir lembut. Di tengah lahan hijau yang subur, seekor ular melata tenang. Ia bukan ular biasa, melainkan sang pengabdi setia penjaga padi, Nilatatsaka.

Dan di sentong keraton, sebatang kayu harum disimpan dengan penuh penghormatan. Prabu Merak Kasimpir, sang ayah yang rela berkorban demi putra dan kesejahteraan negerinya.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#bima #werkudara #batari #Lakon #wayang #batara