Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Lakon Wayang Geger Suralaya 2, Pemimpin Harus Paham Keinginan Rakyatnya

Ki Damar • Kamis, 24 Juli 2025 | 01:15 WIB
Ilustrasi lakon wayang Geger Suralaya.
Ilustrasi lakon wayang Geger Suralaya.

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

“Pernyataanmu justru makin menguatkan keyakinanku bahwa manusia telah melupakan dirimu,” jawab Bima lantang.

“Seharusnya seorang penguasa itu turun langsung ke bawah, melihat penderitaan rakyatnya, memahami apa yang mereka butuhkan, dan memberikan jalan keluar. Dan kini terbukti, hanya akulah yang bisa menjalankan tugas itu. Maka kau marah padaku, bukan karena aku salah, tapi karena aku berhasil melakukan yang tak mampu kau lakukan.”

“Dasar kau ini, sudah jelas salah tapi tetap tak mau mengakui! Malah berani-beraninya menuduh para dewa! Sungguh, kau tak tahu diri!” hardik Batara Guru dengan suara menggelegar.

“Hai Yamadipati! Seret Bima dan masukkan anak Kunti ini ke Kawah Candradimuka!”

“Sendika dawuh, Pukulun,” sahut Yamadipati, sang penjaga alam kematian.

Baratasena segera dibawa ke Kawah Candradimuka. Tak ada rasa takut sedikit pun dalam hatinya. Api berkobar bagaikan samudra yang bergolak, namun Bima tetap tegak berdiri.

Di dalam kawah itu, ia menyaksikan pemandangan yang menggetarkan jiwa: manusia-manusia disiksa dalam berbagai bentuk hukuman.

“Hai Dewa Yamadipati, apa kesalahan manusia itu?” tanya Bima, menunjuk pada seseorang yang memotong lidahnya sendiri.

“Mengapa ia harus menyiksa dirinya seperti itu?”

“Sewaktu hidupnya dahulu, ia sering berbohong dan menjadi manusia munafik. Ia sering mengingkari janji yang diucapkannya sendiri. Maka hukumannya adalah memotong lidahnya,” jawab Yamadipati tenang.

“Setelah lidahnya terpotong, lidah itu akan tumbuh kembali, dan ia harus memotongnya lagi, terus menerus, sampai dosa bohongnya lunas.”

Bima mengangguk pelan, matanya beralih ke arah lain. “Lalu yang di sebelah kiriku itu? Ada seorang perempuan yang memasukkan besi panas ke alat vitalnya sendiri. Apa dosanya?”

“Dia adalah wanita yang sepanjang hidupnya hanya menuruti hawa nafsu. Ia sering membawa laki-laki lain masuk ke rumahnya saat suaminya tidak ada. Bahkan sejak muda, ia gemar berzina dengan lelaki hidung belang. Maka hukuman itulah yang harus ia jalani,” jelas Yamadipati.

Bima menoleh ke sisi kanan. Pandangannya tertuju pada seorang pemuda yang dipukul dengan gada panas, dicambuk, diseret, lalu dipaksa meminum air nanah.

“Dan yang itu?” tanya Bima dengan dahi berkerut. “Apa dosanya sampai mendapat siksaan sekejam ini?”

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#bima #batara guru #Lakon #wayang