Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“Dia seorang anak yang berani kepada kedua orang tuanya. Ia menyiksa bapak dan ibunya, dan perkataannya kerap membuat hati mereka tersayat. Hingga akhirnya, orang tuanya menangis pilu dan memilih mengakhiri hidup karena tak kuat menanggung derita,” jawab Yamadipati lirih.
“Maka sekarang anak itu dihukum dicambuk dan dipukuli, lalu setelah itu akan dihimpit batu neraka yang panas membara hingga mata dan otaknya keluar. Begitu terus berulang, hingga dosanya lunas.”
Bima memandangi pemandangan mengerikan itu dengan sorot mata tajam. Lalu ia bertanya,
“Sebanyak ini dosa manusia yang kau hukum, tapi aku belum melihat satu pun orang yang dihukum karena menyebarkan ilmu dengan tulus. Maka pertanyaanku: siksaan apa yang akan diterima oleh orang yang berbuat baik?”
Yamadipati mendadak bungkam. Wajahnya bingung, pikirannya buntu. Ia berpikir keras, namun tak menemukan jawaban.
“Aduh, bagaimana ya nanti. Kamu pokoknya harus dihukum dan masuk ke Kawah Candradimuka!” katanya gugup.
Bima menghela napas panjang. Ia menatap Yamadipati dengan sorot kecewa.
“Bagaimana bisa seorang penegak hukum menjatuhkan hukuman, tapi tak tahu bentuk hukumannya? Itu artinya kalian kadang mengadili manusia bukan berdasarkan kitab aturan yang berlaku, melainkan dengan kepentingan pribadi. Kalian seenaknya pada manusia yang dianggap rendah. Lantas, pantaskah kalian disebut sebagai dewa?”
“Diamlah, Bima! Aku juga tak tahu. Aku hanya menjalankan perintah atasan,” ujar Yamadipati ketus.
Bima hanya tersenyum pasrah. Ia melangkah mantap ke dalam Kawah Candradimuka.
Api neraka yang menyala-nyala menari di sekelilingnya, namun tak sedikit pun melukai tubuhnya. Bahkan, ia justru merasa sejuk, seperti sedang mandi embun pagi di kaki gunung.
Sementara itu, Yamadipati yang mengantarnya tampak kelelahan. Keringat mengucur deras dari pelipisnya. Nafasnya memburu karena panas yang membakar.
“Kenapa kau berkeringat?” tanya Bima dengan tenang.
“Apakah kau merasa panas? Lihatlah diriku. Tak merasakan panas, malah sejuk. Kawah Candradimuka pun tahu siapa yang benar dan siapa yang salah.”
Langit Suralaya seakan terdiam. Api itu tunduk pada nurani. Dan para dewa, yang selama ini mengklaim kebenaran, akhirnya mulai mempertanyakan kembali. Siapa sejatinya yang layak disebut bijak?
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani