Lakon Wayang oleh Ki Damar*
“Siapa mereka tidak penting, Pukulun! Tapi bila keduanya terus mengamuk, maka hancurlah seluruh kahyangan tanpa sisa!” seru Narada dengan gelisah.
Wajahnya pucat, jubah sucinya berdebu terkena runtuhan bangunan suci.
Batara Guru menarik napas panjang. “Tenanglah, Kakang Narada. Biarkan aku sendiri yang menemui mereka.”
Dengan cepat ia melayang ke hadapan dua sosok raksasa yang tengah mengamuk: satu putih cemerlang, satu lagi hitam pekat membara. Suaranya menggelegar, menggetarkan langit Suralaya.
“Siapa kalian? Berani-beraninya mengobrak-abrik kahyangan! Apa hubungan kalian dengan Bima?”
Raksasa hitam menjawab lantang, “Kami tidak punya hubungan darah dengan Bima. Tapi kami utusan keadilan. Kami datang karena dewa-dewa telah lupa batas. Ketika keputusan kalian menyimpang dari kebenaran, maka kami akan hadir. Untuk mengingatkan. Untuk menegur. Untuk mengguncang singgasana kalian.”
Batara Guru murka. “Sungguh lancang kalian mengkritik para dewa! Rasakan Cundamanikku!” Ia menghunus pusaka sakti warisan leluhur: Cundamanik.
Namun aneh. Pusaka itu tak bergerak. Tak terangkat. Bahkan perlahan kembali ke tubuh Hyang Manikmaya. Batara Guru tertegun.
“Bagaimana bisa? Mengapa pusakaku tak bisa kugunakan?”
Dewa Amral menatap lurus.
“Karena pusaka tak tunduk pada kesombongan. Pusaka adalah senjata yang mengenal kebenaran. Ia berbahaya bila dimiliki oleh yang benar. Dan lumpuh bila berada di tangan yang menyimpang.”
Batara Guru terdiam. Sorot matanya surut. Pusakanya sendiri menolaknya. Ia tahu, ia telah salah.
Dengan suara lirih dan penuh penyesalan, Batara Guru bersimpuh, “Maafkan aku, Dewa Amral, Amral Dewa. Aku... pemimpin yang terbawa rasa takut. Aku takut dilupakan manusia. Aku takut tak lagi dipercaya.”
Amral Dewa berseru, “Bila kau takut dilupakan, maka turunlah ke bumi. Dengarkan jeritan rakyatmu. Dewa bukan untuk dipuja semata. Tapi untuk memimpin dengan kebijaksanaan. Bima justru telah membantumu menjalankan tugas suci itu.”
Batara Guru mengangguk dalam-dalam. “Baiklah. Aku akan membebaskan Bima. Ia akan kembali ke Arcapada.”
Saat itu juga, api Candradimuka padam. Bima keluar, tubuhnya bersinar sejuk, wajahnya tenang. Ia kembali ke bumi, membawa ilmu, membawa cahaya bagi manusia.
Sementara itu, dua sosok raksasa perlahan berubah wujud. Sosok putih menjelma Puntadewa.
Sosok hitam kembali menjadi Sri Kresna. Keduanya tersenyum.
Karena sesungguhnya, mereka bukan hanya saudara dan sahabat. Tapi simbol keadilan dan kebenaran yang akan selalu hadir setiap kali kekuasaan lupa pada nurani.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani