Lakon wayang Durga Ruwat oleh Ki Damar*
"Hyang Batari Durga, aku tahu kau selalu mengganggu anak-anakku, Pandawa. Kurawa pun selalu memohon bantuan padamu untuk mewujudkan niat jahatnya,'' ujar Kunti.
Maka dari itu, aku justru datang memohon—tolong ruwatlah Pandawa. Hilangkan sukerta yang ada dalam diri mereka. Lindungilah mereka dari siapa pun yang ingin mencelakai." masih kata Kunti.
Durga tertawa sinis.
"Kau ini bagaimana, Kunti? Aku bersekongkol dengan Kurawa,'' ucap Durga.
''Bagaimana mungkin kau memintaku melindungi musuh mereka? Apa yang membuatmu begitu yakin padaku?" sambung Durga.
Kunti menjawab lembut, "Meskipun Paduka adalah dewa dari kaum jin, bukankah tugas para dewa adalah mendengar keluh manusia?''.
''Bagiku, hal itu berlaku untuk semua dewa—termasuk Paduka. Bukankah dewa tidak terikat oleh sekutu?" lanjut Kunti.
Durga tersentak. "Cerdas sekali kau, Kunti. Baiklah, setiap langkah ada tebusannya. Jer basuki mawa bea,'' ungkapnya.
''Aku bersedia meruwat Pandawa, tapi syaratnya: kau harus membawa Sadewa ke hadapanku. Aku akan menghisap darah dan jiwanya, agar bersamaku selamanya!"
Kunti terkejut.
"Lalu untuk apa aku meminta bantuanmu bila harus mengorbankan anakku sendiri?"
"Janji dengan dewa tidak bisa ditarik kembali!" tukas Durga.
"Aku belum berjanji! Aku hanya menawar!" jawab Kunti tegas. "Aku tak akan merelakan Sadewa!"
"Sadewa hanya anak tirimu. Dia anak Madrim! Mengapa kau begitu mencintainya?" (*/den/bersambung)
*Penulis lakon wayang Durga Ruwat ini alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan