Lakon Wayang oleh Ki Damar*
"Ada apa, Eyang? Sepertinya ada sesuatu yang ingin paduka sampaikan," tanya Sri Kresna, memperhatikan raut wajah Prabu Matsapati yang tampak gelisah.
Puntadewa yang duduk sekereta dengan mereka ikut menoleh, menunggu penjelasan.
Prabu Matsapati menarik napas dalam-dalam. "Begini, putu prabu. Dalam adat sebelum perang, ada satu hal yang harus dilakukan. Sebuah pengorbanan. Harus ada tumbal sukarela dari pihak kita, sebagai bentuk restu dan harapan agar perang ini berujung pada kejayaan Pandawa."
Kresna tersenyum miring. "Hahaha, bisa-bisanya perang harus dimulai dengan tumbal. Bukankah perang sendiri sudah akan menimbulkan banyak korban, Eyang?"
Prabu Matsapati menunduk. "Kresna, ini adalah budaya perang yang telah berlaku sejak zaman dahulu. Sebelum engkau lahir pun, adat ini sudah dijalankan. Aku hanya khawatir, bila Pandawa mengabaikan hal ini, akan muncul hal-hal yang tidak diinginkan."
Puntadewa mencoba menengahi.
"Eyang, aku paham niat paduka. Namun perang itu sendiri sudah begitu kejam. Bila kita menambahkan pengorbanan yang disengaja, meski dengan alasan tradisi, rasanya justru lebih keji."
Di luar kereta, Werkudara yang mendengar percakapan tersebut segera menghentikan langkah kuda penarik kereta.
Rombongan di belakang pun otomatis berhenti. Ia mendekat dan berdiri tegak di hadapan para sesepuhnya.
"Eyang Matsapati," ujar Werkudara lantang, "bila paduka ingin bicara tentang ilmu dan ketenangan batin, maka berbicaralah pada Puntadewa, kakakku. Bila ingin berdiskusi soal kebijakan dan strategi politik, maka rujuklah pada Raja Dwarawati, Sri Kresna. Namun jika paduka hendak bicara tentang peperangan dan cara meraih kemenangan, maka berbicaralah denganku. Karena pembicaraan tentang perang tak akan sampai ke hati bila lawan bicaramu tak sefrekuensi."
Matsapati mengangguk pelan. "Baiklah, Werkudara. Aku memintamu untuk mencarikan tumbal. Satu saja, dengan syarat ia menyerahkan diri secara ikhlas, lahir dan batin. Tanpa paksaan. Itu semua agar perang ini membawa kejayaan bagi Pandawa."
Prabu Durgandana, yang ikut mendengar, menambahkan dengan lembut, "Tenanglah Puntadewa, cucuku. Meskipun ini tampak kejam, kami melakukannya demi kalian semua. Ini bukan soal adat semata, tapi soal cinta dan pengabdian dari orang tua kepada cucunya. Jangan sangka ini karena ego atau ambisi pribadi."
Pandawa terdiam. Suasana di sekeliling menjadi hening. Di antara tugas menjaga kebenaran dan tuntutan tradisi, mereka harus memilih jalan yang paling bijak dan paling berani.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani