Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Baratayuda Kapisan 4, Kebiadaban sebelum Perang Terjadi

Ki Damar • Selasa, 29 Juli 2025 | 02:45 WIB
Ilustrasi para tokoh wayang Pandawa dan Kurawa bertarung dalam Perang Baratayudha.
Ilustrasi para tokoh wayang Pandawa dan Kurawa bertarung dalam Perang Baratayudha.

Lakon Wayang oleh Ki Damar*

“Wah, apakah kalian benar-benar ikhlas?” tanya Bima.

“Aneh sekali bila ikhlas itu harus diucapkan,” jawab Demang Ijrapa tenang. “Ikhlas adalah kerelaan hati yang tak butuh pengakuan. Maka kami tidak akan menjawab pertanyaan itu. Yang pasti, pengorbanan ini tanpa pamrih, demi kejayaan para gustiku, para Pandawa.”

Bima pun berdiri dan membungkuk dalam-dalam. “Terima kasih. Terima kasih dari lubuk hati terdalam.”

Tanpa membuang waktu, Bima segera menyampaikan kabar ini kepada Eyang Matsapati. Yudistira yang mendengar pun terkejut.

“Apa katamu, Bima? Demang Ijrapa dan Bambang Rawan? Kenapa harus mereka, Yayi?” tanya sang mbarep.

“Kakangku, jangan kau tolak niat baik mereka. Jika kau tolak, mereka akan kecewa. Kau sendiri tahu betapa sulitnya mencari orang yang benar-benar ikhlas. Jangan menyakiti hati mereka, Puntambarepku,” jawab Bima dengan mantap.

Yudistira terdiam, merenung dalam. Akhirnya ia angguk pelan. “Baiklah. Maka mereka harus berangkat lebih dahulu ke medan perang sebelum kita sampai. Ijrapa dan Rawan akan menjadi tumbal pertama, dibunuh oleh tangan-tangan Kurawa.”

Bima kemudian menemui Ijrapa dan Rawan, menyampaikan bahwa saatnya telah tiba. Keduanya menerima dengan semangat dan keteguhan yang mengejutkan banyak pihak. Mereka melangkah menuju Kurusetra dengan dada tegak dan hati lapang, seolah kematian bukanlah akhir.

Di sisi lain, di perkemahan Kurawa, Dursasana memperhatikan dua orang asing yang datang dari kejauhan.

“Lihatlah, Paman Dursasana,” kata seorang prajurit. “Siapa dua orang itu?”

“Hmm, mana saya tahu. Hahaha!” jawab Dursasana enteng.

Bisma yang berdiri tak jauh dari sana turut mendekat dan memandangi dua sosok itu.

“Sepertinya Raja Wirata masih memegang teguh budaya lawas, bahwa perang harus diawali dengan tumbal manusia,” katanya lirih.

Sengkuni yang mendengar langsung berseru, “Dursasana! Cari orang untuk dibunuh sekarang juga!”

“SIAP!” jawab Dursasana dengan suara keras.

Ia bergegas menuju tepian Sungai Serayu. Di sana ia melihat seorang lelaki tua yang tengah membantu menyeberangkan orang, dialah Kyai Sarka, seorang pengayuh rakit yang bijak dan bersahaja.

Tanpa banyak bicara, Dursasana langsung menggorok leher Kyai Sarka.

Dalam hembusan napas terakhirnya, sang kyai berucap, “Dasar kau pemimpin dzalim… Suatu saat kematianmu akan datang juga di sungai ini. Dan aku akan menuntut balas padamu…”

Tubuhnya tergeletak di tepi sungai, sunyi tanpa nyawa. Dursasana pun kembali dan melaporkan pada Sengkuni. Bisma hanya bisa menggelengkan kepala, penuh duka dan kekecewaan atas kebiadaban yang terjadi sebelum perang dimulai.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#bima #Baratayuda #Lakon #wayang #Sengkuni