Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Perdebatan Dua Punakawan: Tak Ditampilkan di Lakon Wayang Ranjaban Abimanyu

Deni Kurniawan • Selasa, 29 Juli 2025 | 04:33 WIB
Momen perdebatan Petruk dan Bagong dalam perang Baratayuda.
Momen perdebatan Petruk dan Bagong dalam perang Baratayuda.

Cerpen Perdebatan Dua Punakawan oleh Deni Kurniawan*

LESATAN panah tak henti menguing. Mulut-mulut bala kurawa bersahut-sahutan. Telinga juga dipenuhi bising deru kaki kuda perang.

Bagong dan Petruk bersembunyi di balik semak belukar hutan Kurusetra, kawasan perang Baratayuda.

Kendati suasana sedang genting, dua punakawan itu tetap dengan tabiatnya. Di mata mereka, semua hal bisa jadi jenaka.

''Truk, bagaimana nanti kalau Raden Abimanyu benar-benar gugur?'' tanya Bagong kepada kakaknya itu.

Petruk menutup semak yang semula dia sibak untuk mengintip suasana dan kondisi palagan.

Si hidung panjang (Petruk), lantas mengalihkan tatapan matanya kepada Bagong.

Dengan mata sinis Petruk lantas menegur adiknya. ''Hus! Jangan bicara sembarangan! Tidak mungkin Ndoro Abimanyu kalah dengan kurawa,'' kata Petruk.

Mata Petruk memelotot. Tatapannya mengarah ke kepala, mulut yang besar, perut buncit, hingga jempol kaki Bagong.

Bagong menunduk. Dia ciut hati sesaat setelah mendengar nasihat dari kakaknya.

''Tapi, kalau benar nanti Ndoro Abimanyu gugur, kita malah untung,'' ucap Petruk.

Kelakar Petruk membuat Bagong mendongakkan kepala. Jidatnya berkerut, wajahnya penuh rasa heran.

''Maksudmu apa Truk?'' tanya Bagong.

''Istri Raden Abimanyu, Gong,'' jawab Petruk.

''Istri Raden Abimanyu kenapa?'' punakawan berjuluk Baworsari itu kembali bertanya.

''Istrinya dua, kamu mau yang mana?'' Petruk balik bertanya.

Dalam lakon wayang Jawa, Abimanyu dikisahkan memiliki dua istri.

Yang pertama adalah Siti Sundari. Kemudian, putra Janaka itu mempersunting Dewi Utari.

Dasar punakawan, Petruk dan Bagong malah sibuk berebut kedua perempuan cantik itu.

Mereka adu argumen berebut dua istri Abimanyu. Bagong dan Petruk sama-sama menginginkan Siti Sundari.

Sebab, Dewi Utari kala itu sedang berbadan dua. Dia hamil tua saat ditinggal Abimanyu turun ke Baratayuda sebagai wakil Pandawa.

Bagong dan Petruk sampai berkelahi hingga terguling-guling di semak belukar hutan Kurusetra.

Padahal, apa yang mereka perebutkan adalah suatu hal yang belum jelas.

Kala itu, belum pasti Abimanyu. Dan juga, belum tentu Siti Sundari dan Dewi Utari mau.

Kendati demikian, dua putra Semar itu serius menginginkan Siti Sundari.

Kini, Bagong menduduki kepala Petruk. ''Benar kita saudara, soal perempuan beda cerita,'' ujar Bagong jemawa seolah sudah memenangkan pertarungan. 

Keduanya kini terdiam. Napas mereka sama-sama terengah. Namun, Petruk belum menyerah.

Sejurus kemudian, teriakan bala kurawa semakin lantang.

Lambat laun, terdengar sorak mengalun tentang kematian Abimanyu.

Petruk dan Bagong semula tak percaya. Kedua lantas mengendap-endap mencari celah mendengarkan berita peperangan.

Sejurus kemudian, dua punakawan itu saling bertatapan. Mata mereka berkaca-kaca.

Kabar Abimanyu tewas benar adanya.

Bahkan, Bagong dan Petruk melihat langsung jasad Abimanyu yang sudah tak berwujud.

Jasadnya dipenuhi berupa-rupa senjata. Mulai anak panah sampai tombak menancap di tubuh.

Saking banyaknya senjata yang menancap di tubuh, Abimanyu menyerupai landak alias ranjab.

Dan karena inilah muncul lakon wayang bertajuk Ranjaban Abimanyu. (*)

*Penulis cerpen Perdebatan Dua Punakawan ini bekerja di Radar Madiun

Editor : Deni Kurniawan
#Lakon wayang #kurawa #Ranjaban Abimanyu #cerpen #Pandawa #abimanyu #Baratayuda #kurusetra #Perang 10 November #wayang #Cerita #Bagong #petruk