Jawa Pos Radar Madiun –Setiap anak pasti butuh kasih sayang seorang ayah. Baik anak perempuan maupun laki-laki.
Lantas, bagaimana tentang seorang tokoh atau karakter perkasa terhadap ayahnya? Seperti Gatotkaca kepada Bima.
Tokoh wayang Bima alias Werkudara selama ini kerap diasosiasikan dengan kekuatan, kejujuran, dan keteguhan hati.
Dalam beberapa lakon pewayangan versi Jawa, dia dijunjung sebagai ksatria paling lurus.
Sosok yang diceritakan tak banyak bicara, namun paling setia pada kebenaran.
Meski demikian, tersimpan cerita getir di balik citra gagah perkasa itu.
Yakni, tentang hubungan rumit antara dirinya dengan sang putra yang bernama Gatotkaca.
Tak banyak yang mengulik, bahwa kelahiran Gatotkaca bermula dari penderitaan ibunya, Dewi Arimbi.
Seorang raksasi yang disucikan menjadi manusia karena cintanya pada Bima.
Cinta itu tidak berbalas seutuhnya. Bima menikahi Arimbi demi menyelamatkan negeri raksasa Pringgandani.
Hati Werkudara tak sepenuhnya berada di sana.
Bima tetap menggenggam rasa hormat pada Pandawa dan tujuan dharma.
Sementara Arimbi, jatuh cinta sepenuhnya kepada salah satu anggota pandawa itu.
Gatotkaca, anak hasil pernikahan itu, lahir dalam kondisi yang tak biasa.
Tubuhnya keras bagai baja, urat dan tulangnya tak tersambung seperti layaknya manusia biasa.
Sang bayi hanya bisa menangis keras, tak bisa dibedong, tak bisa dibaringkan.
Mengetahui hal tersebut, para dewa turun tangan.
Tubuhnya akhirnya dipatri dengan tenaga gaib dari senjata sakti.
Bahkan, bayi Gatotkaca dimasukkan ke dalam Kawah Candradimuka agar menjadi bayi perkasa.
Namun ada yang tak disebutkan dalam versi heroik pewayangan.
Tepatnya, saat Gatotkaca berusia belia. Dia tidak tumbuh dalam pelukan hangat Bima.
Werkudara menyerahkan si kecil kepada para resi dan dewa untuk dididik.
Bahkan, ketika Gatotkaca sudah tumbuh menjadi ksatria muda yang tangguh, Bima tak pernah memanggilnya ''anakku'' dengan kasih sayang yang utuh.
Dia lebih sering menyebutnya sebagai bagian dari pasukan Pandawa.
Dalam beberapa lakon, tergambar momen menyayat saat Gatotkaca terluka dalam perang Bharatayuda.
Dia lantas mencari Werkudara, berharap ada kata semangat atau pelukan atau sekadar tepukan pundak sebagai penguat jiwa.
Namun, Bima hanya berkata singkat saat disambati putranya itu: "Seorang ksatria tidak menangis!".
Ketegasan Werkudara kerap dinilai sebagai kebajikan.
Namun bagi Gatotkaca, itu luka yang terus membekas.
Dia tak pernah benar-benar merasakan kehangatan figur ayah.
Sebaliknya, dia justru tumbuh dalam bayang-bayang tuntutan harus kuat, harus gagah, harus mati dengan terhormat.
Puncak hubungan rumit antara ayah dan anak ini terjadi dalam episode tragis.
Yaitu, saat kematian Gatotkaca di tangan Karna.
Dalam sebuah versi, Gatotkaca sengaja dijadikan tumbal oleh Pandawa untuk membongkar kekuatan senjata Kontawijaya milik Karna.
Senjata itu hanya bisa dipakai sekali, dan Pandawa tahu hanya Gatotkaca yang cukup kuat untuk menerimanya.
Bima, sang ayah, tidak mencegah rencana itu. Dia diam. Dia tahu bahwa anaknya akan mati, tapi ia tidak menghalangi.
Apakah itu bentuk keikhlasan, atau justru bentuk pengkhianatan terhadap cinta seorang ayah?
Gatotkaca pun gugur di langit Kurusetra. Tubuhnya membumbung membelah angkasa lalu menjelma bintang.
Dalam kelamnya malam, Werkudara hanya menatap langit tanpa kata.
Tak ada tangis, tak ada ratap. Hanya dada yang terasa sesak.
Dia kehilangan putra, namun tak tahu bagaimana cara berduka.
Ini bisa jadi pengingat bahwa seorang ksatria yang disebut-sebut paling suci pun menyimpan kelam.
Citra heroik sering kali menutupi retakan emosional yang nyata. Gatotkaca mungkin gugur sebagai pahlawan.
Namun sebagai anak, dia mati tanpa pernah merasakan sepenuhnya cinta dari seorang ayah. (den)
Editor : Deni Kurniawan