Lakon wayang Dityakala Jenggisrana oleh Ki Damar*
USAI menyusup ke tengah pasukan kera, Janggisrana—yang kini menyamar sebagai Kapi Srani—mulai memainkan siasat halusnya.
Setelah menyesuaikan diri dengan para kera yang sedang beristirahat, ia mulai menanamkan benih keraguan yang mematikan.
"Kita istirahat dulu, sejak pagi belum setetes air pun masuk ke tenggorokan," ujar Kapi Liman kepada Srani.
"Hebat juga kamu, tampaknya tak lelah sedikit pun."
Kapi Srani menanggapi dengan senyum penuh percaya diri, “Aku memang kuat. Ini belum seberapa.”
Canda dan tawa mengalir. Situasi tampak ringan dan penuh keakraban, hingga tiba-tiba Kapi Srani melempar pertanyaan tajam, “Apa sih yang sebenarnya kita dapat dari semua ini?”
Ucapan itu sontak membuat suasana hening. “Apa maksudmu?” tanya Kapi Anggeni dengan nada waspada.
“Tenang,” jawab Srani, “aku cuma merenung saja. Negara ini kan bebas berpendapat, bukan?”
Kapi Cucakrawun menimpali, “Kalau hanya ingin bicara, silakan saja.”
Maka mulailah Kapi Srani menyusupkan retorikanya: “Apakah pengorbanan kita ini benar-benar dihargai? Kita kerja keras, bangun tambak, bantu negara, tapi apakah ada jaminan kesejahteraan untuk kita? Atau semuanya hanya demi Prabu Rama seorang?”
Kapi Anggeni menjawab dengan tenang namun mantap, “Sebagai rakyat, sudah sepantasnya kita tunduk kepada raja,''.
''Prabu Rama adalah pemimpin adil dan bijaksana. Aku tak pernah berpikir apa untungnya, karena tugasku adalah mengabdi.” lanjutnya.
Namun Janggisrana terus menekan celah emosi, “Kalau begitu, mengapa kita yang bekerja keras masih harus membayar pajak, sementara penguasa menikmati hasilnya? Aku tidak menyalahkan siapa-siapa, tapi inilah kegelisahan rakyat kecil seperti aku.” (*/bersambung)
*Penulis lakon wayang Dityakala Jenggisrana alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan