Lakon Wayang Dityakala Janggisrana oleh Ki Damar*
KETIKA ketegangan mulai memuncak, Kapi Jaya Sraba memperingatkan Kapi Srani, “Jaga mulutmu! Jika ini terdengar oleh pimpinan lain, urusannya akan panjang.”
Kapi Srani, yang menyamar sebagai seekor kera, tak gentar.
“Aku tidak takut,” jawabnya tegas.
“Bahkan jika harus dihadapkan langsung dengan Prabu Rama,'' lanjutnya.
Aku di sini dipaksa untuk menemani mereka, sementara anak dan istriku menunggu di rumah. Mereka tak tahu keadaan sebenarnya—ibuku sakit, dan istriku harus bekerja keras.” lanjutnya lagi.
Kapi Liman, yang mendengar keluhan itu, mencoba menenangkan Kapi Srani.
“Kamu khawatir, tapi jangan terlalu mengeluh. Anak, istri, dan ibumu akan baik-baik saja,” kata Kapi Liman sambil menepuk punggungnya.
Namun, Kapi Srani terus menggoyang-goyangkan pikiran kera-kera yang lain, menghasut mereka untuk meragukan pemerintahan Prabu Rama.
“Prabu Rama lebih mementingkan kepentingan pribadinya—wanita—daripada kesejahteraan rakyat. Suatu saat nanti, kita akan disuruh mengorbankan darah demi cintanya,” katanya dengan nada penuh provokasi.
Perkataan ini berhasil mempengaruhi sebagian kera muda. Mereka mulai mempertanyakan tujuan mereka bekerja keras.
“Untuk apa kita bekerja? Demi Prabu Rama?” salah satu dari mereka berteriak.
“Ini bukan untuk negara, ini hanya kepentingan cintanya, kenapa kita harus menanggung beban ini?”
Situasi menjadi panas, dan Kapi Anggeni marah. Ia memukul kera muda tersebut, mencoba menenangkan kerusuhan yang terjadi.
Sementara itu, Kapi Srani diam-diam pergi sambil tertawa puas dan bertepuk tangan, merasa berhasil menanamkan keraguan yang semakin dalam. (*/bersambung)
*Penulis lakon wayang Dityakala Janggisrana alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan