Lakon wayang Dityakala Janggisrana oleh Ki Damar*
KEKACAUAN yang terjadi di tengah pasukan kera tidak luput dari perhatian Raden Gunawan.
Ia mencium ada kejanggalan dalam perkelahian yang terjadi saat waktu istirahat. Gunawan pun segera mengutus Anoman untuk menyelidiki.
“Sebetulnya apa yang terjadi, Kapi Liman?” tanya Anoman.
Kapi Liman menjawab, “Tadi ada Kapi Srani yang curhat tentang nasibnya. Tapi ia juga memprovokasi kita agar tidak patuh pada Prabu Rama dan menyuruh kita tinggalkan pekerjaan.”
“Lalu apa yang terjadi?”
“Banyak kera yang termakan omongannya, hingga akhirnya pecah kericuhan itu, Raden.”
Laporan ini langsung dibawa ke hadapan Prabu Rama dalam pertemuan istana.
“Yayi Sugriwa, apakah kamu tahu siapa sebenarnya Kapi Srani itu?” tanya Prabu Rama.
Sugriwa terlihat ragu.
“Seingat saya, Kapi Srani itu sudah sangat tua. Kenapa ia ikut bekerja dan tidak tinggal saja di Gua Kiskenda?”
Kecurigaan pun semakin menguat. Rama memerintahkan Sugriwa, Gunawan, dan Anoman untuk mencari tahu identitas asli Kapi Srani.
Saat mereka menemukannya, Gunawan mendekat dan bertanya, “Kamu Kapi Srani?”
Dengan gugup sosok itu menjawab, “Iya, Raden,''.
Namun Gunawan langsung berseru, “Ini bukan Kapi Srani! Dia adalah anak buah Prabu Dasamuka bernama Janggisrana!”
Seketika Gunawan mencambuknya dengan penuh amarah.
Narpati Sugriwa mencoba melerai. “Apa yang kau lakukan, Gunawan? Dia bangsa kera. Kau ingin memberontak?”
Gunawan tetap teguh, “Tidak, Raden Sugriwa. Dia bukan bangsa kita. Dia penyusup dari Alengka.”
Lalu muncul Petruk, tokoh jenaka yang membawa kebenaran:
“Lho, bukannya Kapi Srani sudah mati lama sekali? Ndara Sugriwa lupa, ya?”
“Tidak mungkin! Aku tahu betul siapa Kapi Srani,” jawab Sugriwa bingung.
Petruk mengangguk pelan. “Den, ingatlah, Kapi Srani sudah lama wafat.” (*/bersambung)
*Penulis lakon wayang Dityakala Janggisrana alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan