Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Arjuna dan Pernikahan Dewi Pregiwa: Lakon Carangan yang Membongkar Watak Janaka

Ki Damar • Jumat, 1 Agustus 2025 | 01:15 WIB
Ilustrasi lakon wayang Arjuna Prasetya.
Ilustrasi lakon wayang Arjuna Prasetya.

Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*

Dalam khasanah pewayangan Jawa, terdapat banyak lakon carangan, kisah ciptaan dalang yang tidak berasal dari naskah Mahabharata asli, namun tetap lekat dengan nilai dan karakter tokoh.

Salah satu lakon yang menarik untuk dikaji adalah cerita tentang pernikahan Dewi Pregiwa, putri Arjuna, dengan Gatotkaca, putra Werkudara alias Bima.

Kisah ini bukan sekadar romantika dua anak Pandawa, tetapi juga membongkar sisi kelam watak Arjuna yang sering dianggap sempurna.

Dalam lakon ini, Janaka (nama lain Arjuna) diperlihatkan tidak memiliki pendirian yang kuat, mudah dipengaruhi, bahkan nyaris menghancurkan kebahagiaan keluarganya sendiri karena mendengarkan ramalan yang menyesatkan.

Kisah bermula ketika Werkudara mengirimkan surat lamaran kepada Arjuna, menyampaikan niatnya menjodohkan Gatotkaca dengan Dewi Pregiwa.

Arjuna sangat gembira. Ia merasa terhormat bisa berbesanan dengan kakaknya sendiri. Ia juga mengetahui betul siapa Gatotkaca, satria muda yang gagah berani, tangguh, dan luhur budi.

Tanpa ragu, Arjuna menerima lamaran itu. Persiapan pun dilakukan. Hari pernikahan ditentukan. Seluruh keluarga Pandawa dan masyarakat kerajaan menyambut kabar baik ini dengan sukacita.

Namun di luar dugaan, sehari sebelum pernikahan, datanglah Begawan Durna, guru Pandawa, yang membawa pandangan spiritual dari ramalan sokalima.

Ia mengatakan bahwa pernikahan Dewi Pregiwa dan Gatotkaca tidak baik secara hitungan Jawa. Jika diteruskan, akan membawa petaka bagi kedua keluarga.

Arjuna yang semula mantap, mendadak goyah. Ia begitu menghormati gurunya hingga tidak mampu menolak saran Durna, meski tidak didukung bukti logis. Akhirnya, Arjuna mengirim surat kepada kakaknya Bima, menyatakan bahwa pernikahan dibatalkan. Surat itu dikirim sehari sebelum hari H.

Werkudara murka. Seluruh keluarga Gatotkaca sudah siap menyambut hari bahagia. Persiapan sudah matang. Tapi tiba-tiba, adik yang ia percaya justru menolak putranya tanpa alasan jelas.

Belakangan diketahui, Durna punya niat tersembunyi. Ia sebenarnya ingin menjodohkan Dewi Pregiwa dengan Lesmana Mandrakumara, anak dari Duryudana, sebagai bagian dari skenario politik Kurawa.

Dengan mengawinkan anak Arjuna dengan anak Duryudana, Durna ingin melemahkan Pandawa dari dalam, lewat hubungan darah.

Situasi menjadi genting. Namun kemudian datanglah Kresna, kakak ipar Arjuna, yang selalu bijak dalam melihat persoalan.

Ia memberi wejangan bahwa seorang satria sejati harus teguh dalam prinsip, dan jangan sampai memutuskan sesuatu hanya karena ramalan atau tekanan orang lain, meskipun itu guru.

Kresna membuka mata Arjuna. Janaka sadar telah terlalu khilaf, bahkan sempat membenci Gatotkaca karena pengaruh hasutan.

Dengan hati yang bersih, Arjuna kembali menyetujui pernikahan Dewi Pregiwa dan Gatotkaca. Acara pernikahan pun berlangsung penuh haru dan kebahagiaan.

Lakon ini tidak hanya menyajikan konflik keluarga Pandawa, tetapi juga menggambarkan dinamika batin seorang tokoh besar seperti Arjuna.

Di satu sisi ia satria yang mulia, tapi di sisi lain ia juga mudah bimbang, mudah terpengaruh, dan kadang abai pada suara hatinya sendiri.

Dalam dunia wayang, Arjuna bukanlah sosok sempurna. Ia adalah manusia dengan segala kebesaran dan kelemahannya. Justru di situlah letak daya tarik kisah ini, yakni mengungkap bahwa bahkan seorang Janaka pun bisa keliru ketika kehilangan keteguhan dalam prinsipnya.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#Gatotkaca #arjuna #wayang