Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Sisi Lain Arjuna: Lelananging Jagad yang Tak Mampu Menjaga Hati, Benarkah Main Belakang dengan Istri Duryudana?

Ki Damar • Jumat, 1 Agustus 2025 | 02:00 WIB
Ilustrasi lakon wayang Arjuna Prasetya.
Ilustrasi lakon wayang Arjuna Prasetya.

Cerita Tokoh Wayang oleh Ki Damar*

Dalam jagat pewayangan Jawa, Arjuna dikenal sebagai tokoh sentral Pandawa yang lekat dengan imej satria sejati, yakni tampan, ahli memanah, halus budi, dan gemar bertapa.

Ia dijuluki Lelananging Jagad, pria paling rupawan sealam raya. Bahkan para dewa pun dikisahkan kalah elok dibandingkan satria Madukara ini.

Tak heran jika para bidadari dan wanita dari berbagai kalangan jatuh hati padanya, hanya dalam sekali pandang. Namun, di balik kemilau ketampanan dan kesaktian itu, tersimpan sisi gelap: Arjuna tidak sanggup menjaga hatinya sendiri.

Arjuna sejatinya telah menikahi Dewi Subadra, adik dari Sri Kresna. Namun, kesetiaannya goyah saat bertemu wanita-wanita lain.

Sejarah wayang mencatat, Dewi Larasati, trah Mandura, Dewi Ulupi, Dewi Wilutama sang bidadari kahyangan, hingga Batari Supraba dan Batari Dresanala tak luput dari pesonanya dan juga godaannya.

Bahkan dalam lakon-lakon tertentu, Arjuna digambarkan sempat merayu dan menjalin asmara terlarang dengan Dewi Banuwati, istri dari Raja Astina, Duryudana. Sebuah hubungan yang melanggar batas etika satria dan saudara.

Menurut beberapa sumber, Banuwati adalah cinta pertama Arjuna. Namun kisah mereka tidak berjodoh.

Banuwati kemudian dipinang oleh Duryudana dan menjadi permaisuri kerajaan Astina. Arjuna menyimpan luka mendalam sejak saat itu, meskipun tak pernah diungkapkan secara terang-terangan.

Dalam beberapa lakon seperti “Rimong Batik”, Arjuna digambarkan berduaan dan memadu kasih dengan Banuwati secara diam-diam, bahkan setelah perang Baratayuda berakhir dan Pandawa menang.

Pasca kemenangan Pandawa, Banuwati tidak dibunuh, melainkan hanya dijadikan budak kerajaan.

Menurut lakon-lakon carangan, permintaan ini datang langsung dari Arjuna, yang berdalih sebagai bentuk belas kasihan.

Tersirat bahwa Arjuna memiliki maksud terselubung.

Setiap malam, ia diam-diam mengunjungi Banuwati dan bercumbu, meskipun perang baru saja selesai, dan ia sendiri baru saja kehilangan putra tercintanya, Abimanyu, serta para putra lainnya seperti Irawan, Wijanarka, dan Sumitra.

Kisah ini membuka ruang tafsir baru terhadap tokoh Arjuna. Ia bukan tokoh suci, bukan manusia paripurna. Justru di balik ketampanannya tersimpan kegetiran, luka batin, dan kegagalan dalam menahan godaan duniawi.

Sebagai tokoh yang sangat lekat dengan orang Jawa, Arjuna sering diteladani sebagai lambang kesempurnaan laki-laki. Namun, lakon-lakon alternatif menunjukkan bahwa Arjuna juga manusia biasa, yang bisa tersandung pada urusan cinta dan nafsu.

(*/naz)

*Penulis Alumnus ISI Surakarta

Editor : Mizan Ahsani
#arjuna #wayang #Duryudana