Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Astina tengah bersiap menyambut hari kebesarannya. Namun, ada yang berbeda tahun ini. Rakyat tampak dingin, nyaris acuh.
Tidak ada gegap gempita seperti biasanya. Tidak ada barisan panjang arak-arakan, tidak ada nyanyian pujian, tak ada wajah penuh bangga. Prabu Suyudana merasa gusar. “Kenapa rakyatku tak lagi mencintai tanah ini?” pikirnya.
Ia memanggil semua pejabat istana, para panglima, para brahmana, dan pemuka wilayah. Ruang sidang penuh oleh wajah-wajah gelisah.
“Apakah kalian melihat apa yang terjadi di bawah sana?” tanya Suyudana dengan suara berat, penuh tekanan.
Tak ada yang menjawab. Semua tunduk. Mereka tahu yang dimaksud. Rakyat mulai berani menyuarakan protes.
Di alun-alun, berkibar tinggi bendera kepala gajah, bendera tua Astina dari masa Prabu Hastimurti, menggantikan bendera merah berlambang pusaka Candrasa, lambang negara yang kini dipakai.
Begawan Durna angkat bicara. Suaranya tenang, tapi dalam.
“Ampun, anak Prabu. Bukankah bendera kepala gajah bukanlah simbol pemberontakan? Itu adalah warisan. Bahkan Prabu Hastimurti, leluhur kita, menjadikannya lambang kejayaan Astina. Apakah mereka salah jika kembali pada akar?”
Suyudana mengepal tangan.
“Itu masa lalu, Bapa Panembahan. Sekarang aku yang berkuasa. Aku Prabu Suyudana. Era baru. Kenapa mereka menolak benderaku? Apakah mereka tak menghargai rajanya sendiri? Apakah mereka lebih mencintai masa lalu daripada diriku?”
Durna memandang Suyudana dalam-dalam, namun tak menjawab. Di matanya, pertanyaan sang raja bukan sekadar soal bendera, tapi soal legitimasi yang perlahan memudar.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani