Cerita Wayang oleh Ki Damar*
Mukasura, yang juga dikenal sebagai Mamangmurka, adalah titisan angkara murka.
Ketika Pandawa menjalani masa pengasingan selama dua belas tahun setelah kalah dalam permainan dadu melawan para Kurawa, Arjuna memilih memanfaatkan waktu pengasingannya untuk bertapa dan berkelana.
Dalam pengembaraannya, ia tiba di Gunung Indrakila, tempat ia melantunkan doa dan pemujaan kepada Dewa Siwa demi memperoleh senjata sakti.
Namun, keheningan tapanya terusik ketika Mukasura datang menyerupai babi hutan dan menyerang secara membabi buta.
Dalam Kakawin Arjunawiwaha, Mukasura disebut juga sebagai Momosimuka, patih dari raja raksasa Niwatakawaca.
Ia diutus untuk menggagalkan tapa Arjuna karena jika Arjuna berhasil memperoleh senjata Siwa, maka kehancuran bagi Niwatakawaca tak terelakkan.
Serangan babi hutan raksasa itu memaksa Arjuna bangkit dari semedinya. Dengan sigap ia menarik busur dan melepaskan anak panah ke arah binatang itu.
Pada saat bersamaan, muncul seorang pemburu yang juga membidik babi tersebut.
Terjadi perdebatan di antara keduanya tentang siapa yang lebih dulu memanah. Adu mulut berlanjut menjadi adu kekuatan.
Pemburu itu ternyata adalah jelmaan Dewa Siwa sendiri.
Arjuna yang kalah dalam duel akhirnya menyadari keagungan lawannya, bersujud, dan memohon ampun.
Dewa Siwa berkenan menampakkan wujud aslinya dan mengganjar keteguhan Arjuna dengan senjata sakti Pasupati, senjata pamungkas yang kelak akan menjadi andalan dalam perang besar.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani