Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

SAKAT: Perihal Lima Penjudol yang Membuat Bandar Rugi Ditangkap Polisi

Deni Kurniawan • Jumat, 8 Agustus 2025 | 09:58 WIB
Sakat dan Sarban saat ngobrol di sawah. Sebuah momen dalam cerpen yang terilhami kisah nyata.
Sakat dan Sarban saat ngobrol di sawah. Sebuah momen dalam cerpen yang terilhami kisah nyata.

Cerpen SAKAT oleh Deni Kurniawan*

TINGGI matahari sudah sepenggalah. Beberapa kali Sakat menyeka keringat dengan punggung tangannya.

Kendati bercak basah nyaris memenuhi seluruh baju, dia tampak semangat menyiapkan bedengan. Sakat berniat menanam tomat kemarau ini.

Gunung Lawu berdiri tenang. Seperti mengawasi segala kehidupan yang bergeliat di bawah.

Angin berhembus cukup kencang. Daun-daun pisang berlenggak-lenggok di sudut sawah. Seolah mengikuti senandung riang dari mulut Sakat.

Kiranya, dada petani sepuh itu tak lagi sesak. Duka kematian anak lanang semata wayang telah surut.

Putranya mati setelah gagal menjalani operasi karena tak ada biaya. Duit di bank tidak bisa diambil saat kondisi darurat. Rekeningnya diblokir PPATK.

Telapak tangan Sakat menggenggam batang cangkul kuat-kuat. Ayunan demi ayunan lengan tak henti menggemburkan tanah.

Bersamaan dengan itu, Sarban tiba-tiba datang. Dia adalah pria paruhbaya yang dikenal sebagai koran hidup di kampung.

Beberapa warga menjulukinya sumber informasi. Sebab, banyak tahunya. Mulai harga gabah hari ini sampai gosip politisi ibu kota yang baru ditangkap KPK.

"Istirahat Kat, jangan nyambut gawe terus!'' sapa Sarban sambil membenarkan topi padahal tidak salah posisi.

''Bertani harus semangat, biar bisa cepat umrah," jawab Sakat sembari tersenyum lalu meletakkan cangkulnya.

Ya, tradisi petani, tak sopan jika terus bekerja saat ada yang menghampiri di sawah.

Sakat meraih botol bekas mineral berisi air putih. Minuman hasil masak sendiri itu lantas ditenggak. Jakunnya naik turun beberapa kali.

Setelah basa-basi seperlunya, Sarban dan Sakat kini duduk berdampingan. Seperti biasa, pria berkemeja lengan pendek itu langsung siaran.

"Ada berita tentang lima pemuda pemain judol ditangkap polisi, Kat. Kejadian di Bantul, Jogja,'' ujar Sarban.

''Trus?'' Sakat merespons serius. Sebab, semua orang desa tahu kalau Sarban tak mungkin bercerita tentang hal yang tidak penting.

''Mereka ditangkap karena main curang, mengakali dan membobol sistem permaian online, bandar jadi rugi,'' lanjut Sarban.

Sakat memicingkan mata seraya berkata, "Main untung-untungan itu haram, ditambah curang, sudah sepantasnya ditangkap to,''.

Si petani dengan topi caping itu kemudian menanyakan tentang bandarnya. Sekalian ditangkap atau tidak.

Sarban tak punya jawaban atas pertanyaan itu. Dia hanya bisa mengangkat kedua bahunya. Karena, memang belum ada kabar baru tentang itu.

Dua pria itu lalu terdiam sebentar. Hanya pekik burung dengkek yang berkali-kali menusuk telinga.

Sarban menyulut kretek kesukaannya. Setelah ditawari, Sakat ikut ambil sebatang.

Sejurus kemudian, mata Sakat melotot. Tanda tanya besar seketika menguing di kepalanya.

''Lima pemuda itu ditangkap karena curang dan merugikan bandar. Mereka pelaku, korbannya bandar. Lalu, siapa yang lapor sebelum penangkapan?'' Sakat nerocos menggebu-gebu.

Sarban buru-buru menghembuskan isapan rokoknya. Asap mengepul nyaris menutupi wajah.

Dia tampak memahami sesuatu atas apa yang baru saja dikatakan oleh Sakat.

''Heladalah, jenaka nian (petugas) negeri ini,'' ujar Sarban.

Sakat menggelengkan kepala. Bersamaan dengan itu, kekecewaan terhadap aturan konyol yang membuat putranya mati turut menyembul dari dalam dada.

"Andai semua pemain seperti lima pemuda itu, bandar-bandar pasti buntung. Tidak ada perjudian, tidak ada pemblokiran rekening bank,'' ungkap Sakat.

''Dan Abdi (anaknya), masih bermain layang-layang sekarang,'' tuturnya seraya tertawa getir.

Angin di bulan Agustus kembali berhembus. Menyapu obrolan dua pria di pematang sawah itu.

''Lanjut nyangkul, Kat, biar cepet umrah! Aku lanjut ke warungnya Saminah, kangen kopi susunya,'' ujar Sarban dengan gerakan tangan di depan dada yang membuat terkekeh keduanya.

Sementara itu, gunung Lawu yang sedari tadi menyimak obrolan Sakat dan Sarban, masih menjulang tenang di ujung sana. Seolah turut merasakan keresahan. (*)

*Penulis cerpen SAKAT ini bekerja di Radar Madiun

Editor : Deni Kurniawan
#bantul #bandar #bank #polisi #cerpen #jogja #Sakat #diblokir #pemain judol ditangkap #rekening #kisah nyata #ppatk #gunung lawu #judol