Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Negara Astina sedang dilanda kerusuhan. Banyak rakyat yang melakukan demo karena Prabu Duryudana tidak mau mendengarkan suara mereka.
Rakyat diminta membayar pajak lebih besar, sedangkan kebijakan raja tidak ada yang menguntungkan mereka.
Banyak yang kelaparan, menganggur, dan pendidikan pun semakin mahal.
Setelah ditelisik oleh Kartamarma, ternyata dari sektor keuangan negara sedang mengalami kerugian besar sehingga pajak dinaikkan.
“Kenapa kita malah rugi, Kartamarma? Padahal jika dihitung dengan kekayaan alam Astina, negara kita mestinya untung besar dan rakyat sejahtera. Apakah kau tidak becus mengelola uang ini?” tanya Prabu Duryudana dengan nada keras.
Kartamarma kebingungan menjawab, ia hanya melihat dari buku keuangan negara bahwa diperkirakan ada pejabat yang melakukan korupsi.
“Apa? Bukankah pejabat Astina sudah mendapat gaji besar? Kenapa mereka masih korupsi? Aku sudah menaikkan gaji mereka supaya tidak tergiur oleh uang,” kata Prabu.
Begawan Durna memberi saran, “Anak Prabu, manusia manapun tetap akan tergiur uang. Sekalipun punya banyak harta, bila tidak ada rasa syukur, mereka akan merasa kurang.”
“Bagaimana negara ini bisa maju kalau pejabatnya saja masih rakus dan merampas hak orang lain?” Duryudana menggelengkan kepala.
“Anak Prabu, jangan dengarkan suara rakyat itu. Mereka datang hanya untuk membuat ricuh saja. Bila lelah, mereka akan pulang. Bila perlu, kita bawa beberapa prajurit untuk mengusir mereka. Apa yang mereka pikirkan, berani berdemo pada raja? Padahal kekuasaan raja sangat besar, bahkan bisa memenggal kepala siapa pun yang dikehendaki,” kata Sengkuni.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani