Lakon Wayang oleh Ki Damar*
Pada suatu siang yang tenang, alunan gending Kodok Ngorek terdengar mengisi udara.
Gending sakral ini mengiringi prosesi pernikahan seorang satria dari Madukara dengan seorang putri cantik dari Mandura.
Sang putri bernama Rara Ireng.
Pernikahan megah ini dihadiri para raja dari seratus negeri dan disaksikan oleh para dewa di kahyangan.
Bahkan, mahar yang dipersembahkan dalam pernikahan ini berasal dari kahyangan, sesuatu yang sangat langka dan nyaris tak pernah terjadi.
Hari itu, Kerajaan Amarta penuh dengan keceriaan dan pesta. Tapi seperti halnya kehidupan, di balik kebahagiaan, terselip pula kepedihan.
Kesedihan dalam pernikahan ini datang dari pihak mempelai pria.
Sang Permadi, atau lebih dikenal sebagai Arjuna, harus melangsungkan pernikahannya tanpa kehadiran sang ayah.
Pasalnya, Prabu Pandu telah lama tiada.
Dari pihak Rara Ireng, sang ayahanda, Prabu Basudewa, juga tidak hadir mendampingi putrinya.
Namun, bukan hanya ketidakhadiran orang tua yang menorehkan luka dalam kisah ini.
Ada satu hati yang hancur, remuk redam menyaksikan pernikahan ini. Hati seorang satria dari Madyapura, Raden Burisrawa.
Ia mencintai Rara Ireng dengan sepenuh jiwa. Bahkan mungkin, cintanya jauh melebihi cinta Arjuna. Tapi apa daya, takdir tak berpihak padanya.
Raden Burisrawa dan kakak iparnya, Prabu Baladewa, pernah berjuang mencari mahar yang diminta oleh Rara Ireng.
Namun mereka gagal. Dan kegagalan itu membuat hati Burisrawa diliputi duka yang mendalam.
(*/naz)
*Penulis Alumnus ISI Surakarta
Editor : Mizan Ahsani