Lakon wayang Bagong Mbangun Desa oleh Ki Damar*
“SYARATNYA, bapakmu Semar harus berjalan jongkok dan menyembahku, Bagong,’’ ucap Batara Guru.
Mendengar itu, Bagong merasa bahwa harga diri ayahnya diinjak-injak. Dia lantas berdiri.
‘’Piye? Heh Batara Guru! Benar aku seorang anak dan aku rakyat kecil. Aku akan menyembahmu, namun bila yang kau inginkan adalah sembah dari ayahku, itu tidak mungkin,'' kata Bagong lantang.
''Bumi tidak akan merestui permintaanmu. Dari pada aku menjatuhkan harga diri bapakku, lebih baik kuurungkan niatku minta dua buah kahyangan itu,'' lanjut Bagong.
“Rakyatmu akan semakin sengsara,’’ sahut Batara Guru.
''Dewa yang memberi wangsit padaku tidak akan membiarkan musibah berlarut,'' ungkap Bagong.
''Pergi kau! Aku akan mengerahkan wargaku untuk menuntut dirimu, Manikmaya,’’ ujar Bagong.
''Seberapa besar masyarakatmu, jangan ragu-ragu. Datangkan 5 ribu atau bahkan 50 ribu orang, aku tidak akan gentar,'' ucap Batara Guru seraya terbang kembali ke kahyangan.
‘’Sombong benar Batara Guru. Berani sekali menantang rakyat. Apakah dia tidak tahu bahwa kedaulatan tertinggi itu berada ditangan rakyat. Bisa-bisanya dia bicara begitu,'' gumam Bagong.
''Pak duduklah dengan tenang di sini, aku akan mengerahkan rakyatku,'' ujar Bagong.
‘’Eh Bagong, dia adalah penguasa kahyangan, apa mungkin kalian bisa mengalahkan Batara Guru?’’ kata Semar.
“Tidak ada yang tidak mungkin bila rakyat sudah bersatu. Kita muak dengan seorang penguasa yang sombong,'' ungkap Bagong.
''Memangnya dia itu siapa? Dulu mengemis meminta dukungan untuk menjadi pemimpin. Kini setelah jadi penguasa semena-mena,’’ lanjutnya.
Bagong meninggalkan Semar. Tanpa sepengetahuan Bagong, Semar pergi ke kahyangan alang-alang kumitir tempat kakeknya berada, yaitu Sang Hyang Wenang. (*/den)
*Penulis lakon wayang Bagong Mbangun Desa alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan