Lakon wayang Bagong Mbangun Desa oleh Ki Damar*
“BATARA Guru, pusaka sehebat apapun bila kau salah maka tak akan ada gunanya,’’ kata Bagong.
‘’Rasakan ini!’’ Batara Guru menggunakan senjata cundamanik ke Bagong.
Bruk... Batara Guru justru tersungkur tak berdaya.
‘’Haha rasakan! Hai warga Pring Apus, lihatlah penguasa telah tersungkur karena kesombongannya,” punakawan Bagong kegirangan.
Lalu, muncullah Hyang Wenang di depan Bagong.
‘’Bagong, kau juga jangan ikut sombong,’’ kata Hyang Wenang.
‘’Lho kok ada anak kecil (Hyang Wenang) keluar dari badanku, ini siapa ya?’’ heran Bagong.
“Hong wilaheng sekaring bawana langgeng. Ulun (aku) adalah dewa, kakek dari bapakmu Semar dan kakek dari Batara Guru ini, Bagong,’’ ucap Hyang Wenang.
‘’Wah, kecilnya segini kok kakek, padahal kamu hanya sejengkalku pukulun,’’ ujar Bagong.
‘’Meskipun begitu, kau bisa berada di genggamanku,’’ tutur Wenang.
Bagong terdiam.
'’Manikmaya (nama lain Batara Guru) kenapa kekuasaanmu kau buat untuk sombong dan menyepelekkan manusia lainnya?’’ tanya Wenang.
‘'Maafkan aku eyang pukulun, hamba hanya ingin memberi pelajaran buat mereka agar tidak serta merta meminta sesuatu pada dewa dengan seenaknya saja, buah yang diminta Bagong adalah makanan para dewa,’’ Guru berkilah.
‘’Apakah kau takut buah kahyangan habis? Dan derajatmu turun karena hal ini? Tahukan siapa yang memberi wangsit pada Bagong itu?’’ cecar Wenang.
Batara Guru tertunduk sembari berkata, ‘’Pasti paduka pukulun,’’.
“Benar, aku hanya ingin kau belajar merendahkan hatimu pada rakyat kecil, hatimu kering di lingkungan kahyangan yang terlalu banyak air,'' ujar Wenang.
''Hatimu sepi di lingkungan dewa yang ramai akan tugas dan kewajibannya. Bila kau tidak memberi Bagong buah pelem Pertonggo Jiwa dan jambu Dipanirmala, maka aku sendiri yang akan memberi,’’ lanjutnya.
“Oh tidak pukulun, maafkan aku. Aku sadar dan akan mengubah sikapmu jauh lebih baik, dan memberi Bagong apa yang diminta,’’ kata Guru.
Setelah itu, Desa Pring Apus menjadi sejahtera dan subur terhindar dari bencana. (*/den)
*Penulis lakon wayang Bagong Mbangun Desa alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan