Lakon Wayanng Ratu Samrat oleh Ki Damar*
DI Kerajaan Amarta, Prabu Puntadewa duduk resah. Sang raja menunggu kabar dari kakaknya, Prabu Kresna, serta dua adiknya, Werkudara dan Arjuna, yang sedang berjuang membebaskan raja 97 negara dari cengkeraman Prabu Jarasanda di Magada.
Meski dikenal sebagai pemimpin yang bijak, Puntadewa tetap dihantui rasa khawatir. Ia cemas bila perjuangan para satria itu harus dibayar mahal dengan banyak korban jiwa.
Kegelisahan Puntadewa membuat Nakula dan Sadewa berusaha menenangkan kakaknya.
“Paduka janganlah risau,” ucap Nakula. “Kresna, Werkudara, dan Arjuna adalah satria sakti mandraguna. Mereka memiliki kecerdasan dan kekuatan yang tak tertandingi.”
Sadewa menambahkan, “Benar kakanda. Prabu Kresna adalah titisan Hyang Wisnu, bijaksana dan penuh waspada. Kakang Bima punya tenaga setara tujuh puluh gajah, selalu siap menjadi benteng pertahanan. Dan Arjuna, juru tembak andalan, piawai membaca gerak lawan.”
Mendengar itu, Puntadewa menunduk dalam. “Benar, Nakula Sadewa. Aku tidak meragukan kekuatan mereka. Namun aku khawatir bila kebijakan dan perjuangan ini harus mengorbankan banyak nyawa. Aku tidak ingin darah rakyat tertumpah sia-sia. Sebagai pemimpin, aku akan dimintai pertanggungjawaban, bukan hanya di dunia, tapi juga di akhirat.”
Ucapan Puntadewa menegaskan kebijaksanaannya sebagai raja yang selalu mendahulukan kemanusiaan di atas ambisi perang. (*/den)
*Penulis lakon wayang Ratu Samrat alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan