Lakon wayang Ratu Samrat oleh Ki Damar*
KEMATIAN Prabu Supala menimbulkan kegaduhan di pendapa Amarta. Prabu Matsapati, raja Wirata, bertanya langsung pada Kresna.
“Kenapa kau membunuh Supala, putu Prabu Kresna?”
Kresna menatap tenang. “Supala adalah anak angkatku. Ayahnya, Prabu Supalakni, sudah memberikan kuasa hidup matinya Supala kepadaku. Dan paduka pun tahu, aku telah bersumpah atas dirinya, bukan?”
Matsapati kembali bertanya, “Apakah kesalahan Supala sudah genap seratus kali hingga engkau bunuh?”
Sri Kresna hanya tersenyum. Lalu ia menegaskan, “Baiklah para raja, kematian Supala ini bukan murni kesalahanku. Semua sudah terikat janji lama antara aku dan Supala. Maka jangan salah paham terhadap lakon ini.”
Setelah diwisuda sebagai Ratu Samrat, Puntadewa menjamu seluruh tamu yang hadir. Hidangan lezat, makanan, dan minuman segar disajikan bagi raja-raja serta para brahmana. Suasana penuh kemegahan, tanda syukur atas kemenangan Pandawa membebaskan 97 raja dari belenggu Jarasanda.
Namun, tidak semua datang dengan hati tulus. Raja Astina, Duryudana, hadir bukan untuk merestui Puntadewa, melainkan mencari celah untuk membuat huru-hara di Amarta.
Dengan suara lantang, Duryudana mengejek, “Hai Puntadewa, apakah kau layak menjadi Ratu Samrat? Bahkan menjadi seorang raja pun kau tidak pantas!”
Puntadewa tetap tenang, “Kakanda Prabu, atas dasar apa engkau berkata demikian?”
Duryudana tersenyum sinis. “Ha! Lihatlah rakyatmu! Banyak yang kelaparan di luar sana. Mereka berdemo menentang acara ini. Dan engkau justru berpesta, makan enak, minum segar, serta menghamburkan anggaran negara untuk mengundang banyak tamu. Bagaimana mungkin raja seperti itu disebut pemimpin?”
Kata-kata Duryudana membuat suasana pendapa yang semula meriah berubah tegang. Awal perlawanan Kurawa terhadap Puntadewa pun semakin jelas terlihat. (*/den)
*Penulis lakon wayang Ratu Samrat alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan