Lakon wayang Arjuna Bela oleh Ki Damar*
MELIHAT perdebatan kian memanas, Dewi Subadra akhirnya ikut bicara.
“Samba, keponakanku. Bibi setuju dengan pamanmu. Tidak ada pembenaran bagi seorang lelaki merebut istri orang lain. Kau telah merusak pager ayu,'' kata Subadra.
''Bila sekadar kagum, itu wajar. Tapi jika rasa itu menjalar sampai ingin memiliki, kau sudah salah besar,” lanjutnya.
Namun Samba tak terima. Dia malah menuduh, “Bibi selalu mendukung paman Arjuna karena takut ditinggalkan. Padahal bila paman tak ada di kesatrian, rasa curigamu juga besar,'' ucap Samba.
''Aku ke sini bukan untuk berdebat, tapi untuk minta dukunganmu,” lanjut putra Kresna itu.
Arjuna makin gusar. “Apa sebenarnya yang kau pikirkan, mencintai istri kakakmu sendiri?”
Dengan pongah, Samba menjawab, “Lanang-lanange wong lanang yen bisa mbedang bojone liyan (Pria yang sesungguhnya adalah yang bisa merebut istri orang lain),''.
''Aku akan merasa jantan bila bisa merebut istri orang. Cintaku pada Hagnyanawati bukan dusta, dan dia pun merasakan hal yang sama,” ucap Samba.
Mendengar itu, Hagnyanawati ikut bicara. “Paman, aku tidak mencintai Prabu Sitija. Ia kasar dan tak peduli padaku. Yang kucintai hanyalah Raden Samba.”
Samba pun menambah bara, “Paman, bantulah aku sekali ini saja. Lagipula, bukan hanya aku yang mencintai istri orang lain. Apakah aku perlu bercerita tentang Dewi Banuwati, istri Raja Astina?”.
Ucapan itu membuat Arjuna tersinggung berat. Dia segera bangkit, melarak keponakannya keluar dari kesatrian.
Subadra hanya bisa terdiam, menahan rasa malu dan getir atas kelakuan Samba dan Hagnyanawati. (*/den)
*Penulis lakon wayang Arjuna Bela alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan