Nasional Kota Madiun Kab. Madiun Ngawi Magetan Ponorogo Pacitan Internasional Olahraga Gaya Hidup Hiburan Jual Beli

Cerpen Misteri, Syarat Pesugihan Pasar Sayur Plaosan

Deni Kurniawan • Rabu, 10 September 2025 | 08:32 WIB
Ilustrasi cerpen misteri Syarat Pesugihan Pasar Sayur Plaosan.
Ilustrasi cerpen misteri Syarat Pesugihan Pasar Sayur Plaosan.

Cerpen Misteri Syarat Pesugihan Pasar Sayur Plaosan oleh Deni Kurniawan*

KAKI Sakat kuat-kuat menginjak pedal gas mobilnya. Sebab, malam itu jalanan terasa sunyi. Kabut tipis turun dari lereng Gunung Lawu.

Beberapa kali dia merasa ada hal janggal. Mulai kelebat bayangan melintas, suara samar, hingga rasa berat di bahu. Hidungnya juga sempat mencium bau busuk yang menyengat.

Namun, Sakat tetap melanjutkan perjalanan. Dia kala itu dalam perjalanan dari Madiun menuju Solo lewat jalur wisata Sarangan.

Kawasan kota Magetan terlewati. Mendekati Pasar Sayur Plaosan, Sakat teringat pesanan seorang kerabat. Dia lantas menepikan kendaraannya.

Seorang pedagang perempuan sepuh menawarkan dagangannya.

Tanpa lama, lima kantong sayur dibeli. Entah kenapa, dia menurut begitu saja.

Karena lelah, Sakat memilih menginap di salah satu penginapan di kawasan Telaga Sarangan.

Penjaga penginapan yang ramah menyapanya. Tawaran teman perempuan untuk bermalam ditawarkan.

Namun, Sakat menggelengkan kepala sembari menangkupkan kedua tangannya. Malam itu, dia hanya ingin beristirahat.

Pagi harinya, si penjaga melihat Sakat sibuk membereskan barang bawaan. Beberapa kantong sayur menumpuk di bagasi mobil. Obrolan singkat pun terjadi.

''Mas beli sayur di mana?” tanya penjaga.

“Di pasar sayur Plaosan, kemarin. Sudah ramai meski tengah malam,” jawab Sakat.

Penjaga itu sontak terkejut. “Lho, mas… pasar sayur Plaosan tutup. Penutupan itu dilakukan setahun sekali,'' ucapnya.

''Jadwal penutupan tidak tentu, para pedagang lawas yang menentukan. Aku tahu tentang itu karena nenekku dulu jualan di sana,” jelasnya serius.

Sakat terdiam. Darahnya berdesir kencang. Dia teringat wajah samar para pedagang semalam.

Penjaga lalu berbisik, “Itu bukan pasar biasa, mas. Konon katanya, malam penutupan itu adalah syarat pesugihan. Mereka yang terlihat berjualan bukan manusia, melainkan makhluk tak kasat mata,” terangnya.

Dengan wajah pucat, Sakat segera masuk ke mobil. Kantong-kantong sayur yang tadi terlihat segar, kini mulai membusuk dan berbau anyir.

Perjalanan dari Madiun ke Solo lewat jalur Sarangan itu menjadi pengalaman mencekam. (*)

*Penulis cerpen misteri Syarat Pesugihan Pasar Sayur Plaosan adalah redaktur Jawa Pos Radar Madiun

Editor : Deni Kurniawan
#solo #pesugihan #wisata #cerpen #Sakat #sarangan #misteri #penginapan #madiun #plaosan #pasar sayur