Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Lakon Wayang Duwarawati Lurug 3: Mengapa pama begitu bernafsu berperang melawan Duwarawati?

Ki Damar • Jumat, 12 September 2025 | 03:34 WIB
Ilustrasi lakon wayang Dwarawati Lurug.
Ilustrasi lakon wayang Dwarawati Lurug.

*Lakon Wayang Kulit Duwarawati Lurug oleh Ki Damar

 

SETELAH kematian adiknya, Raden Samba, dan istrinya, Dewi Hagnyanawati, Prabu Sitija dihadapkan pada pilihan sulit. Patih Pancatnyana menjelaskan dua opsi:

Dilurug, menunggu Duwarawati menyerang terlebih dahulu.

Nglurug, menyerang lebih dulu agar lawan belum siap.

Sitija menatap tajam. “Kalau begitu, kita nglurug. Kita serang Duwarawati sebelum mereka sempat bersiap!”

Dengan kekuatan prajurit yang tersisa, Trajutrisna pun bersiap melancarkan serangan mendadak.

Saat pasukan bergerak, Ancakugra, salah satu senopati, menarik tangan Pancatnyana.

“Mengapa pama begitu bernafsu berperang melawan Duwarawati?”

Patih Pancatnyana tersenyum sinis.

“Kau lupa, Nak? Kita ini hanya bersandiwara selama ini. Aku tak pernah ikhlas dipimpin Sitija. Raja kita, Prabu Bomantara, dibunuh olehnya. Kini waktunya membalas dendam.”

Ancakugra mengangguk, mulai memahami.

“Jadi ini bukan sekadar perang melawan Duwarawati?”

“Benar. Aku ingin membuat ayah dan anak itu saling berperang. Bila Kresna mati, kita untung. Bila Sitija mati, kita juga diuntungkan. Dengan cara ini, arwah Prabu Bomantara akan tenang di alam baka.”

Tawa dingin Pancatnyana bergema, membuat Ancakugra merinding. Perang yang akan terjadi bukan hanya perang kerajaan, melainkan juga perebutan harga diri dan dendam pribadi. (*/den)

*Penulis lakon wayang kulit Duwarawati Lurug alumnus ISI Surakarta

Editor : Deni Kurniawan
#sitija #Lakon wayang #kisah #wayang kulit #Kresna #Hagnyanawati #Samba #Cerita #Amarta #Duwarawati Lurug