Lakon Wayang Kulit Duwarawati Lurug oleh Ki Damar*
USAI memutuskan menyerang Duwarawati, Ancakugra mulai mengungkapkan isi hati kepada Patih Pancatnyana.
“Aku setuju denganmu, Paman. Aku tidak suka diperintah Prabu Sitija. Anak muda itu tak punya adab, selalu mengancam akan membunuh bila ada yang menentangnya. Orang memberi saran dianggap melawan, yang diam pun dituduh berkhianat. Pemimpin seperti itu hanya menyebar rasa takut.”
Ucapan Ancakugra didukung oleh Amisunda, senopati lainnya.
“Dia membuat kebijakan sesuka hati. Seolah-olah tidak memahami bahwa mayoritas kerajaan ini adalah bangsa raksasa. Kita dipaksa tunduk pada manusia, padahal manusia sendiri sering saling memfitnah, menikam dari belakang, dan serakah,'' ungkapnya.
''Katanya berakal dan berhati, nyatanya akalnya mati dan hatinya gersang,” lanjut Ancakugra.
Pancatnyana menghela napas panjang sebelum menyambung.
“Benar. Bahkan kita bangsa raksasa tak pernah saling bunuh. Tapi manusia? Mereka tega membunuh saudaranya sendiri. Lihatlah Sitija, ia membunuh adiknya demi seorang wanita. Bagiku, manusia jauh lebih kejam dari raksasa.”
Ancakugra mengangguk setuju.
“Maka pantas saja kita menolak dipimpin oleh manusia yang telah kehilangan nuraninya.”
Ucapan itu membuat suasana hening. Namun di balik hening itu, tersimpan bara amarah yang akan segera menyulut perang. Rencana Pancatnyana dan para raksasa untuk menjatuhkan Sitija semakin bulat. (*/den)
*Penulis lakonn wayang Duwarawati Lurug alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan