Gaya Hidup Hiburan Internasional Kab. Madiun Kota Madiun Magetan Nasional Ngawi Olahraga Pacitan Ponorogo

Di Antara Sadar dan Lelap, Cerita Misteri Diminta Nyekar Mendiang Kakek

Deni Kurniawan • Minggu, 14 September 2025 | 05:08 WIB
Ilustrasi cerpen misteri Di Antara Sadar dan Lelap.
Ilustrasi cerpen misteri Di Antara Sadar dan Lelap.
Cerpen Di Antara Sadar dan Lelap oleh Deni Kurniawan*

SEMUA orang punya misteri dalam hidup masing-masing. Yang mana, kebanyakan berkaitan dengan rasa takut.

Ada yang takut terhadap makhluk tak kasat mata, bangsa lelembut, ada pula yang perihal klenik dengan beragam cerita di dalamnya.

Sakat, seorang pemuda penduduk asli lereng Gunung Lawu, sangat lekat dengan semua itu.

Kesehariannya tak lepas dari berupa-rupa hal yang membuat bulu kuduk merinding.

Seperti yang dialaminya kemarin malam.

Penyebabnya, dia lupa menjalankan ritual rutin yang selalu dilakukan sebelum tidur.

Sakat lebih dulu berwudhu. Itu pasti ditunaikannya.

Setidaknya, setelah dia dikhitan belasan tahun silam.

Ritual membersihkan diri sebelum tidur itu merupakan wasiat mendiang sang kakek.

Namun kemarin malam, Sakat lupa. Seharian bekerja mencangkul di sawah Pak Carik membuatnya amat lelah.

Alhasil, kejadian di luar nalar dialaminya.

Diawali, sesosok perempuan cantik yang menjemputnya di kamar.

Sakat dituntun keluar rumah. Perempuan itu menunjuk Gunung Lawu.

Meminta Sakat untuk memandangi puncaknya lekat-lekat.

Sakat ho'oh saja menuruti permintaan perempuan itu.

Selang beberapa saat, Sakat tiba-tiba berada di puncak.

Perempuan itu kembali mununjuk suatu arah.

Sakat tak paham apa yang ditunjuk. Dia lantas menatap perempuan itu dengan penuh penasaran.

Niat hati ingin bertanya apa yang ditunjuk, Sakat malah terkesima dengan dua mata indah milik perempuan di hadapannya.

Dua bola mata yang menyorotkan perasaan sejuk dan penuh ketenangan.

Sejurus kemudian, Sakat justru masuk ke dalam mata itu.

Di sana, dia tak melihat apa-apa. Atas bawah, kiri kanan, di sekelilingnya, semua kosong.

Yang dilihatnya hanya hamparan ruang putih tanpa batas.

''Beri tahu aku! Sekarang aku ada di mana?'' teriak Sakat.

Alih-alih mendapat jawaban, telinga Sakat malah menguing sakit. Selanjutnya, sunyi. Benar-benar tak ada suara. Desir angin sekalipun tak terdengar.

Kepala Sakat mendadak pusing. Pening dan terasa berputar-putar hebat.

Dia memekik kesakitan hingga habis suara, lalu pingsan.

Sakat yang semula terpejam, membuka matanya. Itu setelah telinganya seperti ditiup oleh seseorang.

Dia terjingkat seketika. Sakat kini berada di makam kakeknya.

Si perempuan ada di sampingnya. ''Kau melupakan wasiat kakekmu,'' ujar si perempuan itu.

Sakat akhirnya sadar bahwa sebelum tidur tadi lupa tidak menjalankan ritual wasiat dari sang kakek.

Merasa bersalah, pandangan Sakat kembali tertuju ke bola mata yang sejuk milik perempuan itu.

Hal di luar nalar kembali dialaminya. Bedanya, Sakat kini kembali ke tempat tidurnya. Dia lantas bergegas ambil wudhu.

Lalu, merebahkan kembali badannya yang lelah. Mata sengaja dipejamkan agr cepat tidur.

Dalam batas antara sadar dengan lelap, suara si perempuan kembali terdengar.

''Pergilah ke makam kakekmu, nyekar, dan doakanlah!''. Sakat tersenyum lalu tertidur. (*)

*Penulis cerpen Di Antara Sadar dan Lelap redaktur Jawa Pos Radar Madiun

Editor : Deni Kurniawan
#wasiat #cerpen #Sakat #misteri #Cerita #gunung lawu