KEMATIAN Amisunda membuat Namun Ancakugra panik dan berusaha kabur. Namun ia dihadang oleh Patih Pragota.
“Seret dia ke mari!” teriak Baladewa.
Ancakugra memohon ampun. “Ampun, Sinuwun. Aku hanya menjalankan perintah rajaku.”
“Oh begitu? Aku juga hanya menuruti kata hatiku untuk membunuhmu!” Baladewa menggoreskan Nenggala di lehernya. Ancakugra tewas seketika.
Setelah itu, Baladewa berseru, “Ayo Boma! Jangan sombong! Uwakmu yang akan membunuhmu!”
Namun Prabu Kresna menahan. “Tunggu, kakanda prabu. Biarkan Gatutkaca yang melawan Sitija!”
Baladewa geram, lalu melampiaskan kemarahan dengan membunuh prajurit-prajurit kecil dari Trajutrisna.
Di medan laga, Sitija menatap Gatutkaca tajam.
“Haha! Dari dulu kau selalu jadi penghalangku. Aku tak peduli kau wakil ayahku atau tidak. Kau tetap musuh bebuyutanku!”
Pertarungan pun pecah. Pertarungan berlangsung lama dan sengit, hingga Gatutkaca berhasil mematahkan leher Sitija.
Namun karena Ajian Pancasona, Sitija bangkit kembali. Berulang kali Gatutkaca mematahkan lehernya, namun ia tetap hidup.
“Meski kau membunuhku sehari 70 kali, kau tak akan bisa mengalahkanku!” teriak Sitija sambil tertawa.
Tiba-tiba Anjang-anjang Kahyangan muncul di angkasa. Gatutkaca paham ini adalah tanda akhir.
“Maafkan aku, Kakang Sitija. Semoga kau tenang di alam baka,” kata Gatutkaca.
Sitija terkejut. “Apa maksudmu?”
“Anjang-anjang itu akan menjadi ranjang kematianmu. Saat lehermu kupatahkan lagi, jasadmu akan diletakkan di ranjang kahyangan. Kau akan digantung, tak lagi menyentuh tanah. Ajian Pancasonamu tak akan berfungsi!”
“Lepaskan aku!” teriak Sitija ketakutan.
Namun Gatutkaca mengakhiri duel. Leher Sitija dipatahkan dan jasadnya segera dibawa ke kahyangan. Di sanalah ia digantung, sehingga tak bisa bangkit lagi selamanya. (*/den)
*Penulis lakon wayang kulit Anjang Anjang Kahyangan alumnus ISI Surakarta
Editor : Deni Kurniawan